Sunday, October 30, 2011

Pengertian Data


Menurut tulisan Rizal Angga Wijaya, data merupakan salah satu hal utama yang dikaji dalam masalah TIK. Penggunaan danpemanfaatan data sudah mencakup banyak aspek. Berikut adalah pembahasan definisi databerdasarkan berbagai sumber.
Data menggambarkan sebuah representasi fakta yang tersusun secara terstruktur, dengankata lain bahwa Generally, data represent a structured codification of single primaryentities, as well as of transactions involving two or more primary entities.  (Vercellis). Selain deskripsi dari sebuah fakta, data dapat pula merepresentasikan suatu objek sebagaimana dikemukakan oleh Wawan dan Munir (2006: 1) bahwa Data adalah nilai yangmerepresentasikan deskripsi dari suatu objek atau kejadian (event)
Dengan demikian dapat dijelaskan kembali bahwa data merupakan suatu objek, kejadian,atau fakta yang terdokumentasikan dengan memiliki kodifikasi terstruktur untuk suatu atau beberapa entitas.
Setelah kita mengerti akan pengertian tentang data maka dari hasil data tersebut aka
menghasilkan informasi. Informasi merupakan sesuatu yang dihasilkan dari pengolahan
data. Data yang sudah ada dikemas dan diolah sedemikian rupa sehingga menjadi sebua informasi yang berguna. Berikut adalah definisi informasi berdasarkan berbagai sumber. Informasi merupakan suatu hasil dari pemrosesan data menjadi sesuatu yang bermakna bagi yang menerimanya, sebagaimana dikemukakan oleh Vercellis (2009: 7) Information is the outcome of extraction and processing activities carried out on data, and it appears meaningful for those who receive it in a specific domain . Selain merupakan hasil dari pengolahan data, informasi juga menggambarkan sebuah kejadian, sebagaimana dikemukakan oleh Wawan dan Munir ( 2006: 1) bahwa Informasi merupakan hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian (event) yang nyata (fact) dengan lebih berguna dan lebih berarti .
Dengan demikian informasi dapat dijelaskan kembali sebagai sesuatu yang dihasilkan daripengolahan data menjadi lebih mudah dimengerti dan bermakna yang menggambarkansuatu kejadian dan fakta yang ada.
Dibawah ini adalah klasifikasi, jenis, dan macam data pembagian data dalam ilmu eksak
sains statistika/statistik beserta contohnya :
A. Jenis Data Menurut Cara Memperolehnya
1. Data Primer
Data primer adalah secara langsung diambil dari objek / obyek penelitian oleh peneliti
perorangan maupun organisasi. Contoh : Mewawancarai langsung penonton bioskop 21
untuk meneliti preferensi konsumen bioskop.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian. Peneliti
mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara
atau metode baik secara komersial maupun non komersial. Contohnya adalah pada peneliti
yang menggunakan data statistik hasil riset dari surat kabar atau majalah.
B. Macam-Macam Data Berdasarkan Sumber Data
1. Data Internal
Data internal adalah data yang menggambarkan situasi dan kondisi pada suatu organisasi
secara internal. Misal : data keuangan, data pegawai, data produksi, dsb.
2. Data Eksternal
Data eksternal adalah data yang menggambarkan situasi serta kondisi yang ada di luar
organisasi. Contohnya adalah data jumlah penggunaan sua tu produk pada konsumen,
tingkat preferensi pelanggan, persebaran penduduk, dan lain sebagainya.
C. Klasifikasi Dara Berdasarkan Jenis Datanya
1. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka. Misalnya adalah
jumlah pembeli saat hari raya idul adha, tinggi badan siswa kelas 3 ips 2, dan lain -lain.
2. Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang mengandung makna.
Contohnya seperti persepsi konsumen terhadap botol air minum dal am kemasan, anggapan
para ahli terhadap psikopat dan lain -lain.

Pengertian Teknik Triangulasi


Dijelaskan oleh Deni Andriana bahwa peneliti menggunakan triangulasi sebagai teknik untuk mengecek keabsahan data. Dimana dalam pengertiannya triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng, 2004:330)
Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda (Nasution, 2003:115) yaitu wawancara, observasi dan dokumen. Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution, selain itu triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.
Denzin (dalam Moloeng, 2004), membedakan empat macam triangulasi diantaranya dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Pada penelitian ini, dari keempat macam triangulasi tersebut, peneliti hanya menggunakan teknik pemeriksaan dengan memanfaatkan sumber.
Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Patton,1987:331). Adapun untuk mencapai kepercayaan itu, maka ditempuh langkah sebagai berikut :
  1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
  2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
  3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
  4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan masyarakat dari berbagai kelas.
  5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
Sementara itu, dalam catatan Tedi Cahyono dilengkapi bahwa dalam riset kualitatif triangulasi merupakan proses yang harus dilalui oleh seorang peneliti disamping proses lainnya, dimana proses ini menentukan aspek validitas informasi yang diperoleh untuk kemudian disusun dalam suatu penelitian. teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lain. Model triangulasi diajukan untuk menghilangkan dikotomi antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif sehingga benar-benar ditemukan teori yang tepat.
Murti B., 2006 menyatakan bahwa tujuan umum dilakukan triangulasi adalah untuk meningkatkan kekuatan teoritis, metodologis, maupun interpretatif dari sebuah riset. Dengan demikian triangulasi memiliki arti penting dalam menjembatani dikotomi riset kualitatif dan kuantitatif, sedangkan menurut Yin R.K, 2003 menyatakan bahwa pengumpulan data triangulasi (triangulation) melibatkan observasi, wawancara dan dokumentasi. Apa yang dapat saya katakan disini bahwa implementasi riset kesehatan saat ini banyak dikembangkan kemitraan riset kualitatif dan kuantitatif (mix methods) atau dengan ungkapan saya“Bridging disparities evidence based mixed methods approaches in healthcare organizations”.
Sumber Pustaka :

Saturday, October 29, 2011

Pengertian Teknik Analisis Kualitatif

Menurut catatan Arief dalam situs http://ebdosama.blogspot.com/2009/02/analisis-data-kualitatif-pengenalan.html, ia menuliskan bahwa analisis kualitatif adalah aktivitas intensive yang memerlukan pengertian yang mendalam, kecerdikan, kreativitas, kepekaan konseptual, dan pekerjaan berat. Analisa kualitatif tidak berproses dalam suatu pertunjukan linier dan lebih sulit dan kompleks dibanding analisis kuantitatif sebab tidak diformulasi dan distandardisasi.
Analisis Kualitatif: Pertimbangan-pertimbangan Umum
Tujuan dari analisis data, dengan mengabaikan jenis data yang dimiliki dan mengabaikan tradisi yang sudah dipakai pada koleksinya, apakah untuk menentukan
beberapa pesanan dalam jumlah besar informasi sehingga data dapat disintesis, ditafsirkan, dan dikomunikasikan. Walaupun tujuan utama dari kedua data kualitatif dan kuantitatif adalah untuk mengorganisir, menyediakan struktur, dan memperoleh arti dari data riset. Satu perbedaan penting adalah, di dalam studi-studi kualitatif, pengumpulan data dan analisis data pada umumnya terjadi secara serempak, pencarian konsep-konsep dan tema-tema penting mulai dari pengumpulan data dimulai.
Tugas analisis data adalah selalu hebat, tetapi itu yang terutama sekali menantang untuk peneliti kualitatif, tiga pertimbangan utama, yaitu:
1. Tidak ada aturan-aturan sistematis untuk meneliti dan penyajian data kualitatif. Ketiadaan prosedur analitik sistematis, menjadi sulit bagi peneliti untuk menyajikan kesimpulan.
2. Aspek analisis kualitatif yang kedua yang menantang adalah jumlah besar pekerjaan. Analis kualitatif harus mengorganisir dan bisa dipertimbangkan dari halaman dan bahan-bahan naratif. Halaman itu harus dibaca ulang dan kemudian diorganisir, mengintegrasikan, dan menafsirkan.
3. Tantangan akhir adalah pengurangan data untuk tujuan-tujuan pelaporan. Hasil-hasil utama dari riset kuantitatif dapat diringkas. Jika satu data kualitatif dikompres terlalu banyak, inti dari integritas bahan-bahan naratif sepanjang tahap analisa menjadi hilang. Sebagai konsekuensi, adalah kadang sukar untuk melakukan satu presentasi hasil riset kualitatif dalam suatu format yang kompatibel dengan pembatasan ruang dalam jurnal professional.
Model-Model Analisa
Crabtree dan Miller (1992) mengamati ada banyak strategi analisis kualitatif. Mereka sudah mengenal empat pola analisa utama yang lebih tepat sasaran, sistematis, dan distandardisasi, dan pada ekstremum lain adalah satu model yang lebih yang intuitif, hubungan, dan interpretive. empat prototypical model-model yang mereka uraikan adalah sebagai berikut:
“Model Quasi-statistical”. Peneliti menggunakan statistik secara khas mulai dengan pertimbangan analisa, dan menggunakan ide-ide untuk memilih jenis data. Pendekatan ini adalah kadang dikenal sebagai analysis peneliti meninjau ulang isi dari data naratif, mencari-cari tema atau kata tertentu yang telah ditetapkan dalam suatu codebook. Hasil pencarian adalah informasi yang dapat digerakkan secara statistik dan disebut Quasi statistik. Sebagai contoh, analis dapat menghitung frekwensi kejadian dari tema-tema spesifik. Model ini adalah serupa dengan pendekatan kwantitatif tradisional sampai melakukan analisa isi.
“Model Analisa Template”. Di model ini, peneliti mengkembangkan analisa cetakan untuk data naratif yang digunakan. Unit-unit template adalah secara khas perilaku-perilaku, kejadian, dan ungkapan ilmu bahasa. Template lebih mengalir dan dapat menyesuaikan diri dibanding suatu codebook di dalam model Quasi statistik. Peneliti dapat mulai dengan template bersifat elementer sebelum mengumpulkan data, template mengalami revisi tetap sebanyak data dikumpulkan. Analisa menghasilkan data. Model jenis ini adalah bisa dipastikan diadopsi oleh peneliti yang biasa meneliti etnografi, etologi, analisa ceramah, dan ethnoscience.
“Model Analisa Editing” . Peneliti menggunakan model editing bertindak sebagai interpreter yang membaca sampai habis data mencari segmen-segmen penuh arti dan unit-unit. Suatu ketika segmen ini dikenali dan ditinjau, interpreter dikembangkan satu rencana pengelompokan dan kode-kode sesuai yang dapat digunakan untuk memilih jenis dan mengorganisir data. Peneliti kemudian mencari-cari struktur dan pola-pola yang menghubungkan kategori-kategori pokok. Pendekatan teori yang khas menyertakan model ini. Peneliti-peneliti yang biasa meneliti fenomenologi, hermeneutics, dan ethnomethodology menggunakan prosedur pola analisa editing.
“Model Immersion/crystallisasi”. Model ini melibatkan pembaptisan total analis di dalam dan cerminan bahan-bahan teks, menghasilkan satu kristalisasi data yang intuitif. Terjemahan yang interpretive dan subjektif dicontohkan dalam laporan kasus pribadi dari semi anekdot dan jumlah sedikit ditemui di dalam literatur riset dibanding tiga model yang lain.
Proses Analisa
Analisa dari data kualitatif secara khas adalah satu proses yang interaktip dan aktif. Peneliti-peneliti kualitatif sering membaca data naratif mereka berulang-ulang dalam mencari arti dan pemahaman-pemahaman lebih dalam. Morse dan Field (1995) mencatat bahwa analisis kualitatif adalah proses tentang pencocokan data bersama-sama, bagaimana membuat yang samar menjadi nyata, menghubungkan akibat dengan sebab. Yang merupakan suatu proses verifikasi dan dugaan, koreksi dan modifikasi, usul dan pertahanan.
Beberapa kaum intelektual memainkan peran dalam analisis kualitatif. Morse dan Field (1995) mengenali empat proses-proses:
1. Memahami
Awal proses analitik, peneliti-peneliti kualitatif berusaha untuk bisa mempertimbangkan data dan belajar mencari ” apa yang terjadi.” Bila pemahaman dicapai, peneliti bisa menyiapkan cara deskripsi peristiwa, dan data baru tidak ditambahkan dalam uraian. Dengan kata lain, pemahaman diselesaikan bila kejenuhan telah dicapai.
2. Sintesis
Sintesis meliputi penyaringan data dan menyatukannya. `Pada langkah ini, peneliti mendapatkan pengertian dari apa yang “khas” mengenai suatu peristiwa dan apa variasi dan cakupannya. Pada akhir proses sintesis, peneliti dapat mulai membuat pernyataan umum tentang peristiwa mengenai peserta studi.

3. Teoritis
Meliputi sistem pemilihan data. Selama proses teori, peneliti mengembangkan penjelasan alternatif dari peristiwa dan kemudian menjaga penjelasan ini sampai menentukan apakah “cocok” dengan data. Proses teoritis dilanjutkan untuk dikembangkan sampai yang terbaik dan penjelasan paling hemat diperoleh.
4. Recontextualisasi
Proses dari recontextualisasi meliputi pengembangan teori lebih lanjut dan aplikabilitas untuk kelompok lain yang diselidiki. Di dalam pemeriksaan terakhir pengembangan teori, adalah teori harus generalisasi dan sesuai konteks.
Manajemen Dan Organisasi Data Kualitatif

Pengembangan skema pengelompokan
Langkah awal analisa data kualitatif penelitian adalah untuk mengorganisir, tanpa beberapa sistem dari organisasi, ada hanya kekacauan. Tugas utama di dalam mengorganisir data kualitatif mengembangkan metoda untuk menggolongkan dan memberi index. Yaitu, peneliti harus mendisain mekanisme untuk memperoleh akses sampai bagian-bagian data, tanpa harus berulang-kali membaca himpunan data keseluruhannya. Tahap ini sangat utama, suatu data harus dikonversi menjadi lebih kecil, lebih dapat dikendalikan, dan lebih banyak manipulatable unit-unit yang dapat dengan mudah didapat kembali dan review. Prosedur secara luas yang digunakan adalah mengembangkan skema pengelompokan dan kemudian mengkode data menurut kategori.

Kode topik digunakan di dalam penelitian Gagliardi’s ( I991) studi pengalaman keluarga tentang penyesuaian diri seorang anak dengan Duchenne kekurangan gizi otot. Ini adalah suatu contoh dari sistem pengelompokan konkrit dan deskriptif. Sebagai contoh, itu mengijinkan coders untuk mengkode hubungan-hubungan spesifik antar anggota-anggota keluarga, dan kejadian yang terjadi di dalam lokasi spesifik.
Dalam mengembangkan satu rencana kategori, konsep-konsep yang terkait sering dikelompokkan bersama-sama untuk memudahkan proses koding.. Sebagai contoh, semua kutipan yang menggambarkan bagaimana keluarga merasakan tentang menyesuaikan diri seorang anak dengan Duchenne kekurangan gizi otot dikelompokan sebagai “Kode perasaan.”

Studi-studi yang dirancang untuk mengembangkan teori lebih mungkin untuk pengembangan abstrak dan kategori konseptual. Dalam merancang kategori konseptual, peneliti harus merinci data ke dalam segmen-segmen, menguji dan membandingkan dengan segmen-segmen lain untuk perbedaan dan persamaan. Untuk menentukan apa tipe fenomena yang dicerminkan dan apa arti dari fenomena tersebut. Peneliti menanyakan pertanyaan tentang kejadian berbeda, peristiwa-peristiwa, atau pemikiran yang ditandai pernyataan, seperti berikut:
“Apakah ini?
“Apa yang terjadi?
“Untuk apa ini?

Pengertian Teknik Wawancara, Observasi, dan Pengamatan

Menurut catataan Sevli dalam http://sevli074.wordpress.com/2009/01/25/teknik-pengumpulan-data/, dalam penelitian sering sekali peneliti berhubungan dengan data, baik itu penelitian yang berhubungan dengan lapangan ataupun penelitian lainnya. Berikut adalah beberapa teknik dalam pengumpulan data untuk penelitian kelebihan dan kekurangan dalam pemakaiannya juga.

Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Wawancara
  • Teknik Observasi (Observation)
  • Teknik Daftar Pertanyaan (Questioner)
4   Teknik Pengumpulan Sampel (Sampling)
A. Teknik Wawancara
a. Pengertian wawancara
Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (Tanya jawab) secara lisan, baik langsung maupun tidak langsung (I.Djumhur dan Muh.Surya, 1985).
Wawancara adalah salah satu metode untuk dapat mendapatkan data anak atau orangtua dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informan/face to face relation(Bima Walgito, 1987).
Wawancara adalah alat untuk memperoleh data atau fakta atau informasi dari seorang murid secara lisan (Dewa Ktut Sukardi, 1983).
Wawancara informatif adalah suatu alat untuk memperoleh fakta/data informasi dari murid secara lisan. Dengan tujuan mendapatkan data yang diperlukan untuk bimbingan (W.S.Winkel, 1995)
b. Kelebihan dan kekurangan teknik wawancara
Kelebihan
· Flexibility. Pewawancara dapat secara luwes mengajukan pertanyaan sesuai dengan situasi yang dihadapi pada saat itu. Jika dia menginginkan informasi yang mendalam maka dapat melakukan “probing”. Demikian pula jika ingin memperoleh informasi tambahan, maka dia dapat mengajukan pertanyaan tambahan, bahkan jika suatu pertanyaan dianggap kurang tepat ditanyakan pada saat itu, maka dia dapat menundanya.
· Nonverbal Behavior. Pewawancara dapat mengobservasi perilaku nonverbal, misalnya rasa suka, tidak suka atau perilaku lainnya pada saat pertanyaan diajukan dan dijawab oleh responden.
· Question Order. Pertanyaan dapat diajukan secara berurutan sehingga responden dapat memahami maksud penelitian secara baik, sehingga responden dapat menjawab pertanyaan dengan baik.
· Respondent alone can answer. Jawaban tidak dibuat oleh orang lain tetapi benar oleh responden yang telah ditetapkan.
· Greater complexity of questionnaire. Kuesioner umumnya berisi pertanyaan yang mudah dijawab oleh responden. Melalui wawancara, dapat ditanyakan hal-hal yang rumit dan mendetail.
· Completeness. Pewawancara dapat memperoleh jawaban atas seluruh pertanyaan yang diajukan.
Kelemahan :
· Mengadakan wawancara dengan individu satu persatu memerlukan banyak waktu dan tenaga dan juga mungkin biaya.
· Interview Bias. Walau dilakukan secara tatap muka, namun kesalahan bertanya dan kesalahan dalam menafsirkan jawaban, masih bisa terjadi. Sering atribut (jenis kelamin, etnik, status sosial, jabatan, usia, pakaian, penampilan fisik, dsb) responden dan juga pewawancara mempengaruhi jawaban.
· Keberhasilan wawancara sangat tergantung dari kepandaian pewawancara dalam melakukan hubungan antar manusia (human relation).
· Wawancara tidak selalu tepat pada kondisi-kondisi tempat tertentu, misalnya di lokasi-lokasi ribut dan ramai.
· Sangat tergantung pada kesediaan, kemampuan dan keadaan sementara dari subyek wawancara, yang mungkin menghambat ketelitian hasil wawancara.
· Jangkauan responden relatif kecil dan memakan waktu lebih lama dari pada angket dan biaya yang relatif yang lebih mahal.
c. Hal-hal yang tidak boleh dan boleh dilakukan dalam wawancara
Hal-hal yang harus dilakukan seorang pewawancara adalah mendengar, mengamati, menyelidiki, menanggapi, dan mencatat. Kadang-kadang ia seperti seorang penginterogasi, kadang-kadang secara tajam ia menyerang dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan orang yang diwawancarai, kadang-kadang ia mengklarifikasi, kadang-kadang pula ia seperti pasif atau menjadi pendengar yang baik. Suksesnya suatu wawancara tergantung pada kemampuan melakukan kombinasi berbagai keterampilan sesuai dengan tuntutan situasi dan orang yang diwawancarai.
Dalam proses wawancara si pewawancara harus meredam egonya dan melakukan pengendalian tersembunyi. Pewawancara memantau semua yang diucapkan oleh dan bahasa tubuh orang yang diwawancarai, sambil berusaha menciptakan suasana santai yakni suasana yang konduksif bagi berlangsungnya wawancara. Dalam prakteknya, berbagai pikiran muncul dibenak si pewawancara ketika wawancara sedang berlangsung. Seperti : Apa yang harus saya tanyakan lagi? Bagaimana nada bicara orang yang diwawancarai ini? Dari gerak tubuh dan nada suaranya, apakah ia terlihat bicara jujur atau mencoba menyembunyikan sesuatu?
d. Kesimpulan
Wawancara adalah teknik pengambilan data melalui pertanyaan yang diajukan secara lisan kepada responden. Wawancara biasanya dilakukan jika peneliti bermaksud melakukan analisis kualitatif atas penelitiannya.
B. Teknik Observasi
a. Pengertian Observasi
Observasi adalah pengamatan langsung para pembuat keputusan berikut lingkungan fisiknya dan atau pengamatan langsung suatu kegiatan yang sedang berjalan.
b. Kebaikan dan kejelekan observasi
Kebaikan dari observasi adalah sebagai berikut :
a. Data yang dikumpulkan melalui observasi cenderung mempunyai keandalan yang tinggi. Kadang observasi dilakukan untuk mengecek validitas dari data yang telah diperoleh sebelumnya dari individu-individu.
b. Dapat melihat langsung apa yang sedang dikerjakan, pekerjaan-pekerjaan yang rumit kadang-kadang sulit untuk diterangkan.
c. Dapat menggambarkan lingkungan fisik dari kegiatan-kegiatan, misalnya tata letak fisik peralatan, penerangan, gangguan suara dan lain-lain.
d. Dapat mengukur tingkat suatu pekerjaan, dalam hal waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu unit pekerjaaan tertentu.
Sedangkan kekurangannya adalah sebagai berikut :
a. Umumnya orang yang diamati merasa terganggu atau tidak nyaman, sehingga akan melakukan pekerjaannya dengan tidak semestinya.
b. Pekerjaan yang sedang diamati mungkin tidak mewakili suatu tingkat kesulitan pekerjaan tertentu atau kegiatan-kegiatan khusus yang tidak selalu dilakukan atau volume-volume kegiatan tertentu.
c. Dapat mengganggu proses yang sedang diamati.
d. Orang yang diamati cenderung melakukan pekerjaannya dengan lebih baik dari biasanya dan sering menutup-nutupi kejelekan-kejelekannya.
c. Hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam teknik observasi
a. Rencanakan terlebih dahulu observasi yang akan dilakukan, meliputi :
Apa yang akan diobservasi , dimana letak lokasi observasi, kapan observasi akan dilakukan, siapa yang akan melaksanakan observasi tersebut, siapa yang akan diobservasi, bagaimana melaksanakan observasi tersebut.
b. Mintalah ijin terlebih dahulu dari manajer dan atau pegawai yang terlibat
c. Bertindaklah dengan rendah hati (low profile)
d. Lengkapilah dengan catatan selama observasi
e. kaji ulang hasil observasi dengan individu-individu yang terlibat.
Yang tidak boleh dilakukan dalam observasi
a. Menggangu kerja individu yang diobservasi maupun individu lainnya.
b. Terlalu menekankan pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak penting.
c. Jangan membuat asumsi-asumsi.
d. Kesimpulan
Observasi adalah metode yang cukup mudah dilakukan untuk pengumpulan data. Penggunanan metode
C. Daftar Pertanyaan (Quisioner)
a. Pengertian quisioner
Daftar pertanyaan (kuisioner) adalah suatu daftar yang berisi prtanyaan-pertanyaan untuk tujuan khusus yang memungkinkan seorang analis system untuk mengumpulkan data dan pendapat dari para responden yang telah dipilih. Daftar pertanyaan ini kemudianakan dikirim kepada para responden yang akan mengisinya sesuai dengan pendapat mereka.
b. Kebaikan dan kejelekan teknik daftar pertanyaan
Keuntungan angket :
1. Bila lokasi responden jaraknya cukup jauh, metode pengumpulan data yang paling mudah adalah dengan angket.
2. Pertanyaan-pertanyan yang sudah disiapkan adalah merupakan waktu yang efisien untuk menjangkau responden dalam jumlah banyak.
3. Dengan angket akan memberi kesempatan mudah pada responden untuk mendiskusikan dengan temannya apabila menemui pertanyaan yang sukar dijawab.
4. Dengan angket responden dapat lebih leluasa menjawabnya dimana saja, kapan saja, tanpa terkesan terpaksa.
Kelemahan angket :
1. Apabila penelitian membutuhkan reaksi yang sifatnya spontan dengan metode ini adalah kurang tepat.
2. Metode ini kurang fleksibel, kejadiannya hanya terpancang pada pertanyaan yang ada.
3. Jawaban yang diberikan oleh responden akan terpengaruh oleh keadaan global dari pertanyaan. Sangat mungkin jawaban yang sudah diberikan di atas secara spontan dapat berubah setelah melihat pertanyaan dilain nomor.
4. Sulit bagi peneliti untuk mengetahui maksud dari apakag sudah responden sudah terjawab atau belum.
5. Ada kemungkinan terjadi respons yang salah dari responden. Hal ini terjadi karena kurang kejelasan pertanyaan atau karena keragu-raguan responden menjawab.Hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam teknik quisioner
c. Harapan karakteristik pertanyaan pada angket
- Tujuan yang akan diteliti harus jelas disusun dalam pertanyaan.
- Konfidensial : Data yang diberikan responden merupakan rahasia informasi yang dapat dipercaya.
- Anonim : Nama dari responden seyogyanya bukan menjadi masalah yang penting dalam penelitian.
- Pertanyaan mudah dipahami oleh responden.
- Spesifik : Pertanyaan harus dirumuskan secara spesifik dan jelas.
- Ambigiositas : Bila pertanyaan bersifat mendua arti akan menyulitkan bagi responden untuk menjawabnya.
Contoh : Anda suka naik gunung dengan sepeda dan naik kuda?
Disini dua pertanyaan ditanyakan bersama.
- Faktual : Pertanyaan seyogyanya bersifat meminta fakta bukan opini.
Contoh : beberapa orang terbunuh dalam peperangan itu?(fakta)
Bagaimana pendapat anda pada pembunuhan itu. (opini)
- Ketidakjelasan atau kesamaran : Pertanyaan seyogyanya tidak mengandung ketidak jelasan atau samar-samar keraguan.
Contoh : Pada suatu pertandingan sepak bola, anda suka bila ada taruhannya?
- Pertanyaan seyogyanya tidak memberi petunjuk responden terarah pada suatu masalah tertentu.
Contoh : Bukankah anda berfikir bahwa menambah dosis obat yang diminum membahayakan, bukan?
- Pertanyanan hendaknya tidak mempersukar responden untuk menjawabnya.
Contoh : Berapa kali anda setiap hari mandi atau sikat gigi?
- Pertanyaan hendaknya jangan bersifat pribadi. Kecuali kalau perlu sekali, hindari pertanyaan yang bersifat pribadi.
Contoh : Apakah anda suka kawin lagi ?
- Pertanyaan hendaknya tidak terlalu panjang, seyogyanya singkat dan jelas.
- Petanyaan hendaknya besifat logis.
Tanpa bertanya “apakah anda mempunyai TV?” Sudah ditanya “Program TV apa yang anda suka?”
d. Kesimpulan
Kuesioner (angket) merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya, dimana peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden.
Karena angket dijawab atau diisi oleh responden dan peneliti tidak selalu bertemu langsung dengan responden, maka dalam penyusuna angket perlu diperhatikan beberapa hal. Pertama, sebelum butir-butir pertanyaan atau pernyataan ada pengantar atau petunjuk pengisian. Kedua, butir-butir pertanyaan dirumuskan secara jelas menggunakan kata-kata yang lazim digunakan (popular), kalimat tidak terlalu panjang. Dan Ketiga, untuk setiap pertanyaan atau pernyataan terbuka dan berstruktur disediakan kolom untuk menuliskan jawaban atau respon dari responden secukupnya.
D. Teknik Pengumpulan sampel (sampling)
a. Pengertian pengumpulan sampel
Sampling adalah “…the process of choosing a representative portion of a population. If contrasts especially with the process of complete enumeration, in which every member of the defined population is included…” (Cristina P. Parel et.al. : 1973).
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel.
b. Kebaikan dan kejelekan sampel
Ada beberapa keuntungan jika kita menggunakan sampel yaitu:
a. Penelitian sampel dapat dilakukan lebih cepat dan lebih murah. Karena sampel itu lebih kecil dari seluruh populasi maka pengumpulan dan pengolahan data dilakukan lebih cepat. Selanjutnya karena sample hanya merupakan bagian saja dari populasi maka biaya pengumpulan informasi menjadi lebih rendah.
b. Penelitian sampel dapat menghasilkan informasi yang lebih komprehensif. Sebuah sampel yang kecil dapat diselidiki secara lebih teliti dan lebih mendalam, sedangkan untuk suatu populasi yang besar, biaya penyelidikannya akan tidak terbayar.
c. Penelitian sampel lebih akurat. Suatu kelompok kecil peneliti dengan keterampilan tinggi akan melakukan lebih sedikit kesalahan dalam pengumpulan dan pengolahan data daripada kesalahan yang akan dilakukan oleh suatu kelompok yang besar.
d. Oleh karena penghematan yang diperoleh dalam waktu dan biaya maka dengan penelitian sampel dimungkinkan untuk menyedikan populasi yang lebih besar dan lebih bervariasi daripada yang dapat dilakukan dalam waktu dan dengan biaya yang sama, apabila yang dikerjakan itu adalah enumerasi lengkap (Ronny Haditijo Soemantro, 1985: 42).
Kekurangan dari pengumpulan data berdasarkan teknik sampel adalah kurang hasil yang kurang akurat karena kemungkinan terpilihnya item-item yang tidak mewakili dari populasi yang diteliti karena pengumpulan sampel sacara random.
c. Teknik-teknik pengumpulan sampel
a. Sampel random atau sample acak, sampel campur
Teknik sampling ini diberi nama demikian karena di dalam pengambilan sampelnya, peneliti “mencampur” subyek-subyek di dalam populasi sehingga semua subyek dianggap sama. Dengan demikian maka peneliti memberi hak yang sama kepada setiap subyek untuk memperoleh kesempatan (chance) dipilih menjadi sampel. Oleh  karena hak setiap subyek sama, maka peneliti terlepas dari perasaan ingin mengistimewakan satu atau beberapa subyek untuk dijadikan sampel.
b. Sampel berstrata atau stratified sample
Apabila peneliti berpendapat bahwa populasi terbagi atas tingkatan-tingkatan atau strata, maka pengambilan sample tidak boleh dilakukan secara random. Adanya strata, tidak boleh diabaikan, dan setiap strata harus diwakili sebagai sampel.
c. Sampel wilayah atau area probability sample
Seperti halnya pada sampel berstrata dilakukan apabila ada perbedaan antara strata yang satu dengan strata lain, maka kita lakukan sampel wilayah apabila ada perbedaan ciri antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain.
d. Sampel proporsi atau proportional sample, atau sample imbangan
Teknik pengambilan sample proporsi atau sampel imbangan ini dilakukan untuk menyempurnakan penggunakan teknik sampel berstrata atau sampel wilayah. Ada kalanya banyaknya subyek yang terdapat pada setiap strata atau setiap wilayah tidak sama. Oleh karena itu, untuk memperoleh sampel yang representative, pengambilan subyek dari setiap strata atau setiap wilayah ditentukan seimbang atau sebanding dengan banyaknya subyek dalam masing-masing strata atau wilayah.
e. Sampel bertujuan atau purposive sample
Sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subyek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Teknik ini biasanya dilakukan karena beberapa pertimbangan, misalnya karena alasan keterbatasan waktu, tenaga, dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh. Walaupun cara seperti ini diperbolehkan, yaitu peneliti bisa menentukan sampel berdasarkan tujuan tertentu, tetapi ada syarat-syarat yang harus dipenuhi:
1. pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik tertentu, yang merupakan ciri-ciri pokok populasi.
2. subyek yang diambil sebagai sample benar-benar merupakan subyek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi (key subyectis).
3. penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat di dalam studi pendahuluan.
f. Sampel kuota atau quota sample
Teknik sampling ini juga dilakukan tidak mendasarkan diri pada strata atau daerah, tetapi mendasarkan diri pada jumlah yang sudah ditentukan. Dalam mengumpulkan data, peneliti menghubungi subyek yang memenuhi persyaratan ciri-ciri populasi, tanpa menghiraukan dari mana asal subyek tersebut (asal masih dalam populasi). Biasanya yang dihubungi adalah subyek yang mudah ditemui, sehingga pengumpulan datanya mudah. Yang penting diperhatikan di sini adalah terpenuhinya jumlah (quotum) yang telah ditetapkan.
g. Sampel kelompok atau cluster sample
Di masyarakat kita jumpai kelompok-kelompok yang bukan merupakan kelas atau strata. Dalam membicarakan masalah persekolahan, kita jumpai adanya kelompok sekolah SD, SLTP, SLTA. Kelompok-kelompok tersebut dapat dipandang sebagai tingkatan atau strata.
Demikian pula kelompok pegawai negeri, anggota ABRI, pedagang, petani, nelayan, dan sebagainya, kita tidak dapat memandanginya sebagai strata, tetapi kelompok. Inilah yang disebut cluster. Di dalam menentukan jenis cluster atau kelompok harus dipertimbangkan dengan masak-masak apa ciri-ciri yang ada.
h. Sampel kembar atau double sample
Sampel kembar adalah dua buah sampel yang sekaligus diambil oleh peneliti dengan tujuan untuk melengkapi jumlah apabila ada data yang tidak masuk dari sampel pertama, atau untuk mengadakan pengecekan terhadap kebenaran data dari sampel pertama. Biasanya sampel pertama jumlahnya sangat besar sedangkan sampel kedua yang untuk mengecek, jumlahnya tidak begitu besar (Prof. Dr. Suharsini Arikunto, 2006: 133-142).
d. Kesimpulan
Apabila peneliti ingin mendapatkan semua liku-liku dan semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian atau dalam suatu populasi sangat mudah untuk mengumpulkan data hanya dengan teknik sampling ini.

Pengertian Subjek Penelitian

Dalam tulisan Tatang Mangun yang berjudul "Subjek penelitian, responden penelitian, dan informan (narasumber) penelitian" dalam situsnya yang beralamat di http://tatangmanguny.wordpress.com/2009/04/21/subjek-responden-dan-informan-penelitian/, ia mengungkapkan bahwa  hampir tidak dijumpai dalam buku-buku penelitian pembedaan subjek penelitian dari responden penelitian dan informan (narasumber) penelitian. Yang lazim ada hanya mengenai subjek penelitian, itu pun kadang tidak lengkap sepenuhnya terbicarakan, termasuk dalam buku penulis “Menyusun Rencana Penelitian” yang terbit pertama kali sekitar tahun 1986-an oleh penerbit (ketika itu) CV Rajawali (kemudian menjadi RajaGrafindo Persada).
Mari kita buat contoh penelitian untuk memperjelas perbedaan ketiganya. Topiknya mengenai “Kepemimpinan kepala sekolah Sekolah Dasar di Kabupaten Situsini.”
Hal (objek) yang akan diteliti (= objek penelitian) adalah “kepemimpinan kepala sekolah” (yang konkrit atau “operasionalnya” adalah apakah kepemimpinan kepala sekolah atau kasek tersebut efektif/baik ataukah tidak efektif/tidak baik).
“Kepemimpinan kepala sekolah” itu merupakan sesuatu karakteristik atau sifat keadaan dari kepala sekolah. Dengan kata lain, objek penelitian yang berupa “kepemimpinan kepala sekolah” itu melakat pada diri kepala sekolah. Sesuatu yang padanya melekat “objek yang akan diteliti” disebutlah sebagai subjek penelitian. Jadi, dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian (yang mempunyai sifat-karakteristik/keadaan yang akan diteliti itu, atau si empunya objek penelitian, yang dalam hal ini berupa efektivitas kepemimpinan) adalah kepala sekolah. “Subject” dalam bahasa Inggris bisa mengandung arti sebagai “sesuatu yang di-..” (diperbincangkan, didiskusikan, dikaji, dan juga diteliti), bukan “sesuatu yang me-.. (memperbincangkan, mendiskusikan, mengkaji, meneliti).

Subjek Penelitian dan Populasi Subjek Penelitian
Mari kita buat ilustrasi lebih lanjut. Di Kabupaten Situsini ada sebanyak 222 SD. Jadi, ada 222 kepala sekolah, karena per SD ada satu kepala sekolah. Karena penelitian kita tentang kepemimpinan kepala sekolah (objeknya), dan kepala sekolah sebagai subjeknya, maka keseluruhan kepala sekolah (para kepala sekolah SD sebanyak 222 orang) tersebut disebutlah populasi penelitian (tepatnya populasi subjek penelitian). Jadi, seluruh subjek penelitian kita sebut sebagai populasi penelitian (tepatnya populasi subjek penelitian).
“Apanya siapa” yang diukur (diteliti)?
Dalam gambar di atas tampak seekor kura-kura sedang diukur lebar tubuhnya. Yang sedang diukur itu kura-kura. Jadi, kura-kura itu merupakan subjek pengukuran. Apanya kura-kura yang diukur? Lebar tubuhnya. Jadi, lebar tubuh (kura-kura) itu merupakan objek penelitian.
Siapa meneliti (menimbang) “apanya siapa”?
Dalam gambar di atas tampak seorang suster sedang menimbang berat badan seorang pasien. Yang ditimbang berat badannya itu pasien. Jadi, pasien itu merupakan subjek penimbangan. Yang sedang ditimbang itu berat badan si pasien. Jadi, berat badan pasien merupakan objek penimbangan. Siapa yang melakukan penimbangan? Suster. Jadi, suster merupakan penimbang.
Nah, ubahlah istilah mengukur dan menimbang itu menjadi meneliti. Maka, kura-kura merupakan subjek penelitian yang lebar tubuhnya sedang dijadikan objek penelitian. Pasien merupakan subjek penelitian yang berat badannya sedang dijadikan objek penelitian oleh suster sebagai peneliti.
Responden dan Populasi Responden Penelitian
Jika para kepala sekolah itu sendiri yang diteliti (ditanya–dan akan merespon atau menanggapi pertanyaan) disebutlah kepala sekolah itu sebagai responden (perespon, pejawab = orang yang memberikan jawaban atas pertanyaan). Jadi, dalam kasus ini, kasek merupakan subjek sekaligus responden penelitian).
Tetapi, jika yang ditanya mengenai apakah kepala sekolah mampu memimpin dengan efektif atau tidak itu langsung si kepala sekolah, maka jawabannya bisa sangat subjektif (cenderung menilai diri baik). Oleh karena itu, dengan anggapan (asumsi) yang dianggap paling tahu (bisa menilai, karena mengalami sendiri) mengenai kepemimpinan kasek itu baik atau tidak tentulah yang dipimpin oleh kasek tsb, yaitu guru, maka yang sebaiknya akan ditanya (dan merespon, menjawab pertanyaan-penilaian) adalah guru itu. Guru itu disebutlah sebagai responden penelitian (responden yang bukan subjek penelitian, karena subjeknya–si pemilik “sesuatu” yang akan diteliti, dalam hal ini kepemimpinan– tetap kepala sekolah, bukan guru).
Karena guru dari 222 sekolah itu banyak sekali (paling tidak per SD ada 6-7 orang), maka seluruh guru itu disebutlah sebagai populasi penelitian juga, tetapi mereka dalam hal ini merupakan populasi responden penelitian, bukan populasi subjek penelitian.
Bicara dengan siapa, membicarakan tentang siapa?
Jadi, jika berbicara dengan seseorang membicarakan orang lain, maka orang tersebut disebut sebagai responden penelitian, bukan subjek penelitian. Yang menjadi subjek penelitiannya justru orang lain yang dibicarakan. Jika berbicara kepada (dengan) seseorang tentang orang itu sendiri, ia disebut subjek penelitian (sekaligus responden penelitian).
Kembali ke contoh para kepala sekolah.
Setiap kasek, yang kepemimpinannya diteliti, dari 222 kasek itu disebut pula sebagai anggota populasi subjek penelitian (anggota populasi penelitian), dan setiap guru, yang ditanyai mengenai kepemimpinan kepala sekolahnya, dari 222 SD itu disebut sebagai anggota populasi responden penelitian.
Sampel (Subjek dan Responden) Penelitian
Kalau anggota populasi banyak sekali, biasanya yang akan ditanyai (diteliti secara langsung) tentulah tidak semuanya, karena terlampau memakan waktu, energi dan biaya. Jadi, yang akan diteliti hanyalah sebagian dari mereka. Sebagian anggota populasi yang diteliti dari seluruh anggota populasi itu disebut sebagai sampel penelitian.
Dalam contoh para kepala sekolah tersebut di atas, langkah pengambilan sampel atau sampling-nya sebagai berikut:
Pertama-tama diambil terlebih dahulu sampel subjek penelitian (kepala sekolah). Katakanlah diambil 25%-nya (dari 222 kasek). Jadi akan terambil sebagai sampel sekitar 54 (dibulatkan agar hitungannya “bulat” menjadi 50) orang kasek. Tentu dari 50 SD.
Telah diketahui bahwa di setiap SD ada 6-7 guru kelas dan bidang studi (Agama/Penjas). Dari setiap SD tempat sampel kepala sekolah tadi diambil, diambillah sampel gurunya, misalnya 3 orang (dari 6-7 orang guru tadi). Tiga orang guru tersebut disebut sebagai sampel responden. Sampel responden inilah yang ditanyai (diminta penilaiannya mengenai kepemimpinan kepala sekolahnya).
Unit Analisis dan Generalisasi
Yang dinilai oleh para guru itu kepala sekolah. Jadi kepala sekolah sebagai subjek penelitian menjadi unit analisis penelitian (Silakan baca lebih jauh dalam tulisan mengenai unit analisis dalam blog ini juga). Maksudnya “hitung-hitungan” nilai efektivitas kepemimpinan itu per kepala sekolah, bukan per guru.
Secara operasional, jelasnya, penilaian dari tiga guru bawahan seseorang kepala sekolah (sampel guru per sekolah tadi) dihitung dirata-ratakan. Misal guru A menilai kepemimpinan kepala sekolahnya 8, guru B menilai 7, dan guru C menilai 7,5. Total nilai 22,5. Reratanya 22,5 : 3 = 7, 5.
Rerata penilaian guru terhadap kepala sekolah atasannya (nilai 7,5 tadi)  jadilah sebagai nilai efektivitas kepemimpinan si kepala sekolah (dari satu sekolah). Dengan demikian, nantinya, akan ada sebanyak 50 nilai efektivitas kepemimpinan kepala sekolah, karena sampel subjek penelitiannya (kasek) ada 50 orang. Kelima puluh nilai itu dihitung direratakan, sehingga terhasilkanlah nilai efektivitas kepemimpinan kepala sekolah dari seluruh sampel kepala sekolah.
Nilai akhir ini (dari sampel yang 50 orang itu) diberlaku-umumkan (digeneralisasikan) kepada seluruh anggota populasi kepala sekolah, sehingga simpulannya menjadi “tingkat efektivitas kepemimpinan kepala sekolah SD di Kabupaten Situsini termasuk …… (tinggi, sedang, atau rendah). Jadi, bukan berlaku untuk kepala sekolah yang disampel saja, melainkan untuk seluruh kasek anggota populasi penelitian.
Jika kategorisasi nilai itu dibuat: 1,0 – 2,0 =  rendah, 2,1 – 4,0 agak rendah, 4,1-6,0 = sedang, 6,1 – 8,0 agak tinggi, dan 8,1 – 10,0 = tinggi, maka nilai 7,5 itu termasuk agak tinggi. Tegasnya, efektivitas kepemimpinan para kepala sekolah SD di Situsini termasuk kategori agak tinggi. Dengan kata lain, kepemimpinan kepala sekolah SD di Situsini tergolong agak efektif.
Jika yang dilihat persentase terbanyak (“mode“) kepala sekolah dalam rentang nilai efektivitas kepemimpinan, misalnya 1,0-2,0 = 10%; 2,1-4,0 = 15%; 4,1 – 6,0 = 10%; 6,1 – 8,0 = 65%; dan 8,1-10,0 = 0%; maka simpulannya menjadi terbanyak kepala sekolah (65%) efektivitas kepemimpinannya berada pada kategori agak tinggi. Dengan kata lain, terbanyak kepala sekolah SD di Situsini kepemimpinannya termasuk agak efektif.
Hati-hati! Jika menggunakan persentase yang dipersentasekan itu banyaknya (frekuensi) kepala sekolah yang berada pada posisi rentang nilai tertentu, bukan nilainya. Nilai tidak bisa dipersentasekan.
Informan (Narasumber) Penelitian dan Populasi Responden
Peneliti lain, sebagai contoh, ingin meneliti apakah sekolah-sekolah (SD) di Kabupaten Situsini itu mempunyai program (rencana) kerja yang jelas. Yang menjadi objek penelitiannya jadinya “pembuatan/ketersediaan program (rencana) kerja sekolah”. Operasionalnya, apakah sekolah punya rencana strategis (renstra) dan rencana operasional (renop) yang baik dan benar atau tidak. Renstra dan renop sekolah tentu punya sekolah (bukan punya kasek atau guru). Jadi subjek penelitiannya (yang memiliki objek penelitian) adalah sekolah (SD).
Dari mana data (informasi) diperoleh? Tentulah dari kepala sekolah atau para guru yang ikut menyusun (setidaknya mengetahui adanya) renstra dan renop tersebut. Karena mengenai hal ihwal renstra dan renop itu sumber informasi yang akan ditanyai adalah kasek, maka jadilah kasek tersebut sebagai informan (narasumber) penelitian (nara = orang; sumber = dalam hal ini sumber data/informasi penelitian; narasumber = orang yang menjadi sumber data/informasi penelitian).
Jika ada pula guru yang ikut terlibat banyak dalam penyusunan renstra dan renop, dan bisa memberi informasi (data) kepada peneliti, maka guru itu pun jadi informan penelitian pula. Informan yang paling banyak tahu sesuatu informasi (data) mengenai hal yang diteliti, disebutlah sebagai narasumber kunci atau utama (key informan). Informan (narasumber) lainnya lazim disebut informan saja. Jika toh ingin dibedakan dapat disebut informan pelengkap. Jangan salah: yang menjadi informan kunci di sekolah bisa justru bukan kepala sekolah, melainkan guru. Misalnya dalam pelaksanaan secara detail atau rinci (mendalam) program ekstrakurikuler. Program ekstrakurikuler (ekstra = di luar; kurikuler = yang berkenaan dengan kurikulum utama yang tertulis dalam “buku kurikulum sekolah”) adalah kegiatan pendidikan/pengajaran di luar mata pelajaran yang ada dalam kurikulum pokok pendidikan sekolah.
Jadi, jika seluruh 222 SD yang ada di Situsini akan diteliti mengenai renstra dan renopnya, maka seluruh SD tersebut merupakan subjek penelitian. Jadi, subjek penelitiannya merupakan suatu lembaga–yang punya “sifat-keadaan” membuat atau mempunyai/tidak mempunyai renstra dan renop). Populasi penelitiannya (populasi subjek) jadinya ya 222 SD tersebut. Ini yang kadang kala tidak banyak dipahami orang, lalu suka diminta mengubah subjeknya itu staf sekolah, bukan sekolah.
Dalam penelitian seperti ini, tidak ada populasi informan atau narasumber. Yang ada populasi subjeknya. Informan bukan subjek penelitian, bukan pula responden penelitian (walau seperti responden, informan juga menjawab pertanyaan). Informan bersifat kolektif (satu kesatuan), tidak individual. Jadi, kalau toh ada yang disebut “sampel informan” itu karena subjeknya (dalam hal ini sekolah) disampel. Tetapi informan yang ada di sekolah tidak disampel, melainkan dipilih mana yang jadi informan kunci dan mana informan pelengkap (dari seluruh “orang” yang ada di sekolah).
Narasumber (informan) makam keramat
Bayangkan Anda meneliti (ingin tahu) riwayat sesuatu tempat keramat. Di situ ada “juru kunci” penjaga makam. Ia paling banyak tahu “sejarah” orang yang dimakamkan di situ. Siapa yang jadi “subjek” penelitian  Anda? Orang yang dimakamkan di situ. Siapa yang paling tahu “sejarah” orang yang dimakamkan, yang bisa “digali” ceriteranya tentang orang yang dimakamkan itu? Kuncen atau juru kunci makam. Juru kunci makam (kuncen) itu jadilah sebagai narasumber atau informan penelitian Anda.
Bayangkan pula Anda ingin tahu bagaimana ceritera sekelompok warga masyarakat yang membabak-babak sebuah perkampungan jaman baheula. Perkampungan itu sekarang sudah berkembang, banyak penduduknya. Sebagian warga yang dulu membabak-babak itu masih ada, sebagian sudah meninggal.  Siapa yang ingin Anda tanyai? Warga pembabak yang masih hidup, karena yang sudah mati tidak bisa ditanyai, tentu. Sebagai apa mereka ditanyai? Sebagai narasumber atau informan. Siapa saja yang ditanyai? Siapa saja yang paling banyak tahu,  bahkan bisa jadi beberapa orang ditanyai silang agar saling melengkapi apa yang sebagian sudah terlupakan oleh seseorang.
Rangkuman (Definisi)
Nah, agar para mahasiswa mudah mengutip untuk menulis skripsinya apa yang dimaksud objek penelitian, subjek penelitian, responden penelitian, dan informan (narasumber) penelitian, berikut dituliskan rumusan pengertian atau definisinya (definisi = batasan pengertian).
(1) Objek penelitian adalah sifat keadaan ( “attributes”) dari sesuatu benda, orang, atau keadaan, yang menjadi pusat perhatian atau sasaran penelitian. Sifat keadaan dimaksud bisa berupa sifat, kuantitas, dan kualitas (benda, orang, dan lembaga), bisa berupa perilaku, kegiatan, pendapat, pandangan penilaian, sikap pro-kontra atau simpati-antipati, keadaan batin, dsb. (orang), bisa pula berupa proses dan hasil proses (lembaga).
(2) Subjek penelitian adalah sesuatu, baik orang, benda ataupun lembaga (organisasi), yang sifat-keadaannya (“attribut”-nya) akan diteliti. Dengan kata lain subjek penelitian adalah sesuatu yang di dalam dirinya melekat atau terkandung objek penelitian.
(3) Responden penelitian adalah seseorang (karena lazimnya berupa orang) yang diminta untuk memberikan respon (jawaban) terhadap pertanyaan-pertanyaan (langsung atau tidak langsung, lisan atau tertulis ataupun berupa perbuatan) yang diajukan oleh peneliti. Dalam hal penelitian dilakukan dengan menggunakan tes, maka “responden” penelitian ini menjadi “testee” (yang dites). Responden penelitian bisa subjek penelitian, bisa orang lain.
(4) Informan (narasumber) penelitian adalah seseorang yang, karena memiliki informasi (data) banyak mengenai objek yang sedang diteliti, dimintai informasi mengenai objek penelitian tersebut. Lazimnya informan atau narasumber penelitian ini ada dalam penelitian yang subjek penelitiannya berupa “kasus” (satu kesatuan unit), antara lain yang berupa lembaga atau organisasi atau institusi (pranata) sosial. Di antara sekian banyak informan tersebut, ada yang disebut narasumber kunci (key informan)–seorang ataupun beberapa orang, yaitu orang atau orang-orang yang paling banyak menguasai informasi (paling banyak tahu) mengenai objek yang sedang diteliti tersebut.
(5) Populasi penelitian. Istilah ini mengandung ragam makna. Oleh karena itu perlu ditegaskan dengan istilah khusus: (1) Populasi subjek penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian dalam/dari sesuatu penelitian. Setiap subjek penelitian otomatis menjadi anggota populasi subjek penelitian. (2) Populasi responden penelitian (dalam hal responden bukan subjek penelitian) adalah keseluruhan responden penelitian dalam/dari sesuatu penelitian. Setiap responden penelitian otomatis menjadi anggota populasi responden penelitian. (3) Populasi objek penelitian adalah keseluruhan sifat-sifat keadaan yang menjadi sasaran penelitian. Setiap “aspek” sifat keadaan objek penelitian disebut populasi objek penelitian.
(6) Sampel penelitian. Sampel penelitian adalah sebagian dari “anggota” populasi penelitian yang terhadapnya pengumpulan data dilakukan. Hasil pengumpulan data dari sampel tersebut kemudian diberlaku-umumkan (digeneralisasikan) kepada seluruh anggota populasi.
Tambahan: Sampel Objek Penelitian
Contoh peristiwa pengambilan sampel dari populasi objek penelitian (hanya untuk memudahkan) adalah mengetes hasil belajar siswa sejak kelas pertama sampai kelas akhir sesuatu jenjang pendidikan (SD, SMTP, SMTA) lewat UNAS atau UAN. Pertama, dari seluruh mata pelajaran (yang harus dikuasai murid) hanya beberapa mata pelajaran yang diteskan (sampel mata pelajaran). Kemudian dari beberapa mata pelajaran tersebut hanya beberapa butir materinya saja dari sekian banyak butir pengetahuan atau ilmu yang dipelajari semasa bersekolah.
Catatan Lain (Pengingat)
Untuk diperhatikan dan dipahami: Berkait dengan informan (narasumber) penelitian pada atau di SATU “subjek” penelitian (berupa satu lembaga tertentu, bukan beberapa “unit subjek” atau lembaga), tidak ada populasi dan sampelnya.

Pengertian Sampel dan Populasi

Sebagai peneliti kuantitatif, kita tentu tidak asing dengan istilah sampel dan populasi. Nampun, apakah sebenarnya pengertian sampel dan populasi? Berikut ini diuraikan dalam catatan Syamsudin dari Rembang dalam situsnya di http://samsudinrembank.blogspot.com/2010/01/populasi-dan-sampel-penelitian_23.html yaitu sebagai berikut:
A. POPULASI
 Pengertian Populasi
1. Menurut Sugiyono
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas, obyek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
2. Menurut Arikunto
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi.
3. Menurut Gay (1967:67)
Populasi adalah sekelompok objek atau individu atau peristiwa yang menjadi perhatian peneliti, yang akan dikenai generalisasi penelitian.
4. Menurut Ismiyanto
Populasi adalah keseluruhan subjek atau totalitas subjek penelitian yang dapat berupa : orang, benda, atau suatu hal yang di dalamnya dapat diperoleh dan / atau dapat memberikan informasi (data) penelitian.

 Ragam Populasi
Dilihat dari ragamnya, populasi dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu:
1. Populasi terbatas/ terhingga, yaitu populasi yang memiliki batas kuantitatif secara karena memiliki karakteristik yang terbatas. Misalnya 500 orang guru BK di Semarang dengan karakteristik lulusan S1 BK, dengan masa keja 3 tahun.
2. Populasi tak terbatas/ populasi tak terhingga, yakni populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasnya sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah secara kuantitatif. Misalnya petani di Indonesia.
3. Populasi homogen yaitu populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuatitatif.
4. Populasi heterogen yaitu populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang bervariasi.

B. SAMPEL
 Pengertian Sampel
1. Menurut Sugiyono
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
2. Menurut Arikunto
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
3. Menurut Latunnusa
Sampel adalah satu bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili populasi.
4. Menurut Ismiyanto
Sample adalah sebagian dari totalitas subjek penelitian atau sebagian populasi yang diharapkan dapat mewakili karakteristik populasi yang penetapannya dengan teknik-teknik tertentu.

 Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Teknik sampling dibagi dua, yaitu:
1. Probability Sampling
Adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsure (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi:
a. Simple Random Sampling
Dikatakan simple atau sederhana karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.

b. Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/ unsure yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Contoh: suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata, misalnya jumlah pegawai yang lulus S1= 45, S2= 30, STM= 800, ST= 900, SMEA= 400, SD=300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel setelah bab ini.
c. Dispropotionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari PT tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 SMU, 700 SMP, maka tiga orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU dan SMP.
d. Cluster Sampling (area sampling)
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, provinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan. Contoh: di Indonesia terdapat 33 provinsi dan sampelnya akan menggunkan 10 provinsi, maka pengambilan 10 provinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat karena provinsi-provinsi di Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan Stratified Random Sampling.
Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga. Teknik ini dapat digambarkan sebagai berikut.

2. Nonprobability Sampling
Nonprobability Sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang/ kesempatan sama bagi setiap unsure atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi:
a. Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut, misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1- 100. pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya dari bilangan 5. Untuk ini maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.
b. Sampling Kuota
Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Contoh: akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II, dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah jumlah sampel ditentukan 100, dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakeristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang.
c. Sampling Aksidental
Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan ketemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
d. Sampling Purposive
Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja.
e. Sampling Jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relative kecil, kurang dari 30 orang.
f. Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel itu disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding makin lama semakin besar