Tuesday, December 13, 2011

Pengertian dan Penggunaan Metode Dokumentasi

Yang dimaksud dengan metode dokumentasi adalah sekumpulan berkas yakni mencari data mengenai hal-hal berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen,  agenda dan sebagainya.

Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa metode dokumentasi dapat diartikan sebagai suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan, baik itu berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, dan lain sebagainya.


Adapun data yang dapat dikumpulkan melalui metode dokumentasi ini adalah :

  1. Data tentang sistem ganti rugi pengiriman barang yang hilang atau rusak pada PT. Garuda di Bandar Udara Selaparang Mataram.
  2. Data tentang konsep hukum Islam yang berkaitan dengan perjanjian dalam Islam.
  3. Keadaan dan jumlah karyawan, dan lain-lain yang berkaitan dengan penelitian ini.
Sumber: http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/06/metode-dokumentasi.html

Apa dan Bagaimana Metode Historis?


Menurut catatan Rizky Fitriyanti Pradani dalam http://kikitoribertiga.blogspot.com/2011/04/rumusan-tahapan-metode-historis.html, ia mengungkapkan bahwa berbicara mengenai metode historis dapat disebutkan dalam buku karangan Asep. Bahwa metode historis adalah suatu metode pengkajian filsafat yang didasarkan pada prinsip-prinsip metode melalui empat tahapan. Maksudnya pengertian ini adalah sebuah metode yang tidak luput akan prinsip dan pegangan dalam penggunaan berfilsafat. Sehingga dalam menjalankan metode itu pun memiliki beberapa tahapan. Di mana jika kita lihat arti historis itu sendiri bahwa historis itu sendiri adalah sejarah waktu tentang pemikiran masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Jadi jika tersangkut paut akan historis maka metode ini membahas akan kebahasaan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang yang memiliki berbagai tahapan. Historis itu sendiri digunakan untuk memperkaya pengetahuan peneliti tentang bagaimana dan mengapa suatu kejadian masa lalu dapat terjadi serta proses bagaimana masa lalu itu menjadi masa kini, masa kini menjadi masa yang akan datang yang pada akhirnya dapat diharapkan meningkatnya pemahaman tentang kejadian masa kini serta memperoleh dasar yang lebih rasional untuk melakukan pilihan-pilihan di masa kini dan menuju masa depan yang lebih baik. Historis itu pun terdapat hubungan yang benar-benar utuh antara manusia, peristiwa, waktu, dan tempat secara kronologis dengan tidak memandang sepotong-sepotong objek-objek yang diobservasi. Antara manusia, peristiwa, waktu bahkan tempat memiliki ikatan yang saling berkesinambungan. Di mana suatu kejadian sejarah ada karena manusia, peristiwa, waktu dan tempat. Hal ini akan selalu terkait dan akan menjadi suatu kepastian yang pasti.

Berikut adalah tahapan-tahapan metode historis adalah sebagai berikut:
1. Tahap Heuristik :
Tahap Heuristik ini adalah tahapan pertama dalam menjalankan sebuah metode kebahasaan. Di mana pencarian dan penemuan sumber-sumber kajian yang pernah ada tentang objek pemikiran kita. Yakni berinti pada penentuan sumber kajian. Contoh kajian metode tersebut dalam kebahasaan adalah membicarakan morfem dalam Bahasa Indonesia jadi harus mencari dan menemukan sumber yang pernah membicarakan tentang morfem yang kita bicarakan. Bagaimana suatu buku menuliskan pokok bahasan morfem tersebut dan kita harus mencarinya dan itu harus dicari hingga terbitan terbaru. Mungkin seorang penulis akan melakukan revisi atas bukunya yang telah lalu. Setelah itu menyelidiki (investigasi) masuk ke dalam lorong-lorong yang sulit untuk mencari tahu, hingga detail dari objek tersebut kita ketahui. Oleh karena itu, tahap ini produknya masih sebatas data-data milik orang lain yang pernah ada beserta catatan-catatan yang menjelaskan pemikiran itu tadi. Banyak tokoh, pendapat dalam berbagai jenis pustaka.
2. Tahap Kritis (Pengkritikan)
Tahap kedua adalah tahap kritis. Tahap ini ialah bermaksud mengkritisi keabsahan sumber kajian. Maksud dalam pengertian ini adalah filsuf bahasa akan menyoroti pemikiran tadi tentang kemantikan (ditemukan kebercahayaannya). Seorang filsuf akan melakukan kritik demi suatu bahasan yang benar dan teruji. Contoh : menemukan dari satu pustaka tentang mrngungkapkan pemikiran orang lain dan kita mencoba menunjukkan kemantikannya. Jadi seorang filsuf dituntut untuk berpendapat serta kritis terhadap keabsahan sumber kajian itu sendiri.
3. Tahap Interpretasi
Tahapan ketiga ini adalah melakukan interpretasi. Yakni memasukkan pemikiran kita ke dalam pemikiran mereka (para tokoh-tokoh filsuf). Apa yang kita pikirkan sekarang dapat diberi kesempatan untuk memasukkannya ke dalam objek pemikiran mereka (para tokoh-tokoh filsuf) terhadap isi sebuah sumber kajian atau memberikan interpretasi terhadap pemikiran ahli filsafat. Pada tahap interpretasi inilah akan terjadi dialektika antara pengkritisan dengan interpretasi. Terjadi konfrontasi pemikiran kita dengan hasil pengkritisan atau pemikiran tokoh-tokoh filsuf. Mungkin akan menjadi lebih sempurna jikalau pemikiran kita tergabung dalam pemikiran seorang tokoh filsuf tersebut. Kemudian setelah tahap interpretasi ini akan dituangkan ke dalam tahap akhir dalam sebuah metode historis kebahasaan.
4. Tahap Historiografi
Pada tahap akhir (historiografi) ini seorang filsuf memberikan penulisan dalam bentuk rangkaian sejarah. Sejarah di sini maksudnya masih dalam konteks sejarah filsafat bahasa. Mungkin melalui tahapan-tahapan sebelumnya dapat dicantumkan dalam pokok tahapan historigrafi ini. Sebagaimana seorang pemikir memiliki sejarah kejadian dalam mencari sumber kajian kemudian usaha pemikir untuk mengkritisi sumber kajian lalu melakukan interpretasi terhadap sumber kajian. Semuanya dicantumkan pada pokok metode akhir ini. Contohnya ialah: menyusun kesejarahan tentang objek tadi yani tentang morfem yang sudah dikritisi dan dikonfrontasi.

Contoh kajian: Saya akan membahas tentang kata baku dan tidak baku dalam buku Terampil Berbahasa Indonesia karya Gorys Keraf. Dalam buku itu penulis membahas akan kata baku dan tidak baku. Contoh ada sebuah kalimat seperti berikut: Semua hutangnya telah dilunasi. (Yang betul bukan hutang, melainkan utang. Jadi kalimat tersebut seharusnya diubah menjadi: Semua utangnya telah dilunasi.) Penulis terkecoh akan hal ini. Maka saya menggunakan tahap heuristic dalam mencari sumber kajian buku ini kemudian mengkritisi akan kesalahan tersebut dengan mencari data yang valit dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa yang ada dalam kamus adalah kata utang bukan hutang.
Sumber: http://kikitoribertiga.blogspot.com/2011/04/rumusan-tahapan-metode-historis.html

Wednesday, December 7, 2011

Cara Penggunaan Teknik Triangulasi dalam Penelitian

Menurut artikel yang dipostkan oleh Eko Sanjaya Tamba di http://ekosanjayatamba.wordpress.com/2010/03/08/metode-penelitian-triangulasi/, dijelaskan sbb: triangulasi adalah istilah yang diperkenalkan oleh N.K.Denzin (1978) dengan meminjam peristilahan dari dunia navigasi dan militer, yang merujuk pada penggabungan berbagai metode dalam suatu kajian tentang satu gejala tertentu. Keandalan dan kesahihan data dijamin dengan membandingkan data yang diperoleh dari satu sumber atau metode tertentu dengan data yang di dapat dari sumber atau metode lain. Konsep ini dilandasi asumsi bahwa setiap bias yang inheren dalam sumber data, peneliti, atau metode tertentu, akan dinetralkan oleh sumber data, peneliti atau metode lainnya. Istilah triangulasi yang dikemukakan oleh Denzin dikenal sebagai penggabungan antara metode kualitatif dan metode kuantitatif yang digunakan secara bersama-sama dalam suatu penelitian.
Metode penelitian dengan tehnik triangulasi digunakan dengan adanya dua asumsi yaitu yang pertama, pada level pendekatan, tehnik triangulasi digunakan karena adanya keinginan melakukan penelitian dengan menggunakan dua metode sekaligus yakni, metode penelitian kualitatif dan metode penelitian kuantitatif. Hal ini didasarkan karena, masing-masing metode memiliki kelemahan dan kelebihan tertentu, dan memiliki pendapat dan anggapan yang berbeda dalam memandang dan menanggapi suatu permasalahan. Suatu masalah jika dilihat dengan menggunakan suatu metode akan berbeda jika dilihat dengan menggunakan metode yang lain. Oleh karena itu akan sangat bermanfaat apabila kedua sudut pandang yang berbeda tersebut digunakan secara bersama-samaa dalam menanggapi suatu permasalahan sehingga diharapkan dapat memperoleh hasil yang lebih lengkap dan sempurna. Pada level pendekatan penelitian, penggabungan metode kuantitaif dan kualitatif dalam sebuah kegiatan penelitian ditujukan untuk menemukan sesuatu yang lebih utuh dari objek penelitian. Asumsi kedua yang mendasari penggunaan tehnik triangulasi yakni, pada level pengumpulan dan analisis data. Pengumpulan dan analisis data membutuhkan sebuah prosedur untuk menguji hasil analisis data.
Dalam penelitian dengan mengunakan metode triangulasi, peneliti dapat menekankan pada metode kualitaitif, metode kuantitaif atau dapat juga dengan menekankan pada kedua metode. Apabila peneliti menekankan pada metode kualitatif, maka metode kuantitatif dapat digunakan sebagai fasilitator dalam membantu melancarkan kegiatan peneliatian, dan sebaliknya jika menekankan metode kuantitatif. Namun. apabila peneliti memberi tekanan yang sama terhadap kedua metode penelitian ( kuantitatif-kualitaatif) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan harus dilakukan yakni : yang pertama memahami masing-masing metode dan pentingnya metode teersebut dalam suatu penelitian yang akan dilakukan; kedua, memahami permasalahan dan tujuan penelitian yang akan dilakukan sehingga penggunaan metode kualitatif dan metode kuantitatif ini disesuaikan dengan masalah dan tujuan dari penelitian yang ingin dicapai; ketiga, kedua metode yang digunakan juga dapat dilakukan dengan mempertimbangkan prioritas kepentingan, dimana kedua metode dapat digunakan dalam desain secara bersama-sama namun pada laporan penelitian hanya diperhitungkan salah satunya saja; dan yang ketiga, kedua metode juga digunakan berdasarkan pertimbangan keterampilan peneliti, yang terlibat dalam satu kegiatan penelitian secaara simultan apabila ada hubungan dengan masalah dan tujuan penelitian.
Menggunakan metode triangulasi yakni penggabungan dua metode dalam satu penelitian diharapkan mendapatkan hasil yang lebih baik apabila dibandingkan dengan menggunakan satu metode saja dalam suatu penelitian. Sebelum melakukan penelitian dengan menggunakan metode triangulasi, peneliti harus terlebih dahulu menghitung dan memperkirakan apakah hasil yang akan diperoleh nantinya dalam peneltian tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan menggunakan satu metode saja. Selain itu juga diperhitungkan waktu, tenaga dan dana yang dihabiskan dalam penelitian, apakah akan menghasilkan atau memperoleh hasil yang memuaskan.
Metode triangulasi banyak menggunakan metode alam level mikro, yakni bagaimana menggunakan beberapa metode pengumpulan data dan analisis data sekaligus dalam suatu penelitian, termasuk menggunakan informan sebagai alat uji keabsahan dan analisis hasil penelitian. Hal ini didasarkan karena informasi atau data yang diperoleh melalui pengamatan akan lebih akurat apabila juga digunakan wawancara atau menggunakan bahan dokumentasi untuk memeriksa keabsahan informasi yang telah diperoleh dengan menggunakan kedua metode tersebut. Teknik triangulasi lebih mengutamakan efektivitas proses dan hasil yang diinginkan. Triangulasi dapat dilakukan dengan menguji apakah proses dan hasil metode yang digunakan sudah berjalan dengan baik.
Sebagai contoh proses kerja triangulasi yakni, dalam suatu penelitian dengan menggunakan wawancara mendalam dan observasi partisipasi untuk pengumpulan data, perlu dipastikan terhimpunnya catatan harian setiap harinya dari wawancara dan observasi tersebut. Kemudian dilakukan uji silang terhadap materi catatan-catatan harian tersebut untuk memastikan tidak ada informasi yang bertentangan antara catatan harian wawancara dan observasi. Setelah itu, hasil yang telah diperoleh perlu diuji lagi dengan informan-informan sebelumnnya. Apabila terdapat perbedaan, peneliti harus menelusuri perbedaan ytersebut sampai peneliti memperoleh sumber perbedaan dan materi perbedaannya , kemudian dilakukan konfirmasi dengan informan dan sumber-sumber lain. Proses ini dilakukan terus-menerus sepanjang proses mengumpulkan data dan analisis data, sampai peneliti yakin bahwa tidak ada lagi perbedaan-perbedaan dan tidak ada lagi yang perlu dikonfirmasikan kepada informan.
Triangulasi juga dapat dilakukan dengan menguji pemahaman peneliti dengan pemahaman informan tentang hal-hal yang diinformasikan informan kepada peneliti. Hal ini dilakukan karena, dalam suatu penelitian dapat terjadi pemahaman yang berbeda antara peneliti dengan informan mengenai suatu objek yang diteliti. Oleh karena itu, untuk menghindarkan adanya pemahaman yang berbeda tersebut, digunakan triangulasi yakni dengan cara peneliti langsung melakukan uji pemahaman kepada informan. Cara ini dapat dilakukan setelah wawancara atau observasi. Uji pemahaaman dapat dilakukan diakhir penelitian ketika semua informasi telah dipresentasikan dalam draft laporan. Uji keabsahan melalui triangulasi dilakukan karena dalam penelitian kualitatif, untuk menguji keabsahan informasi tidak dapat dilakukan dengan alat-alat uji statistic.
Triangulasi sebagai tehnik pemeriksaan keabsahan data memanfatkan sesuatu yang lain diluar data tersebut untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Adapun tehnik triangulasi yang banyak digunakan dalam pemeriksaan keabsahan data adalah pemeriksaan melalui sumber lainnya. Dalam buku Lexy.J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Denzin membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Triangulasi dengan sumber berrarti membnadingkan dan mengecek balik derajad kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Dalam triangulasi dengan sumber yang terpenting adalah mengetahui adanya alasan-alasan terjadinya perbedaan-perbedan tersebut.
Sedangkan triangulasi dengan metode terdapat dua strategi yakni, pengecekan derajad kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajaad kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Triangulasi dengan memanfatkan penggunaan penyidik atau pengamat yang lainnya membantu mengurangi penyimpangan dalam pengumpulan data. Sedangkan triangulasi dengan teori, menurut Lincoln dan Guba dalam buku Lexy. J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif adalah berdasarkan anggapan bahwa fakta tertentu tidak dapat diperiksa derajad kepercayaannya dengan satu atau lebih teori.
Dalam mengecek keabsahan atau validitas data menggunakan teknik triangulasi. data atau informasi dari satu pihak harus dichek kebenarannya dengan cara memperoleh data itu dari sumber lain, misalnya dari pihak kedua, ketiga dan seterusnya dengan menggunakan metode yang berbeda-beda. Tujuannya ialah membandingkan informasi tentang hal yang sama yang diperoleh dari berbagai pihak, agar ada jaminan tentang tingkat kepercayaan data. Cara ini juga mencegah bahaya-bahaya subyektif.
Penelitian dengan menggunakan metode triangulasi dilakukan dengan menggabungkan metode kualitatif dan metode kuantitaatif dalaam suatu penelitian. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data yang benar-benar lengkap dan komprehensif, walaupun dengan metode ini akan lebih banyak menghabiskan waktu, tenaga dan dana dalam penelitian. Triangulasi sebagai salah satu tehnik pemeriksaan data secara sederhana dapat disimpulkan sebagai upaya untuk mengecek data dalam suatu penelitian, dimana peneliti tidak hanya menggunakan satu sumber data, satu metode pengumpulan data atau hanya menggunakan pemahaman pribadi peneliti saja tanpa melakukan pengecekan kembali dengan penelitian lain. Triangulasi ini merupakan teknik yang didasari pola pikir fenomenologi yang bersifat multiperspektif. Artinya untuk menarik kesimpulan yang mantap, diperlukan tidak hanya satu cara pandang. Dari beberapa cara pandang tersebut akan bisa dipertimbangkan beragam fenomena yang muncul, dan selanjutnya dapat ditarik kesimpulan yang lebih mantap dan lebih bisa diterima kebenarannya. Hasil pengumpulan data yang diperoleh seorang peneliti juga diperiksa oleh kelompok peneliti lain untuk mendapatkan pengertian yang tepat atau menemukan kekurangan-kekurangan yang mungkin ada untuk diperbaiki. Cara ini disebut dengan member check.

Sumber Buku:
Bungin, Burhan. Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis dan Metodologis keArah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: Rajagrafindo Persada. 2003.
Moleong, Lexy. J. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1989. 

Penelitian Eksperimen: Pengertian dan Konsep Dasarnya

Penelitian adalah :
 Research : Pencarian kembali
 Riset : mrpk proses yang berjalan scr terus menerus ( penelitian tidak bersifat final dan bisa disempurnakan)
 Menemukan mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan metode ilmiah
 Suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan tertentu
 Sebagai proses penemuan mlalui pengamatan /penyelidikan yang bertujuan untuk mencari jawaban permasalahan
Metode penelitian
Cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu
 Cara ilmiah : didasarkan ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris dan sistematis
 Rasional : penelitian dilakukan dengan cara yang masuk akal oleh penalaran manusia
 Empiris : cara yang digunakan dapat diamati dengan indera manusia
 Sistematis : Proses penelitian menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis
Apa itu metodologi penelitian?
Ilmu tentang kerangka kerja melaksanakan penelitian
Apa beda Penelitian dan metode Ilmiah
 Penelitian :( Pahami ciri kerja penelitian)
 Ciri Kerja Penelitian:
 penelitian dirancang untuk memecahkan msl
 Memiliki nilai deskripsi, prediksi dan pengembangan generalisasi
 Penelitian memerlukan instrumen unt pengump data
 Penelitian dirancang dg prosedur teliti dan rasional
 penelitian menuntut keahlian
 Penelitian yang menggunakan hipotesis tekanannya untuk pengujian hipotesis
 Penelitian menuntut kesabaran tidak dilakukan tergesa-gesa
 Penelitian memerlukan pencatatan dan pelaporannya dilakukan secara teliti dan cermat baik prosedur maupun kesimpulannya disajikan atas bukti yang obyektif, cermat
Metode ilmiah dalam suatu penelitian
 Metode ilmiah dalam Suatu Penelitian :
Mengikuti proses dalam suatu penelitian, obyektif, sistematis, menggunakan prosedur dan berpegang pada kaidah dan prinsip penelitian melalui pengumpulan data, pengolahan data dan pembuktian secara ilmiah
Mengapa penelitian dilakukan ?
 Rasa Ingin Tahu
 Pengembangan Diri
 Kesadaran Keterbatasan Pengetahuan
 Pemecahan Masalah
Berbagai cara dalam memecahkan Masalah
Pemecahan masalah:
 Tradisional
 Kepercayaan
 Intuitif
 Emosional
 Trial and error
 Melalui Penelitian
Cara mencari kebenaran
 Penemuan secara kebetulan
 Trial and error
 Otoritas/kewibawaan
 Spekulasi
Memilih berbagai kemungkinan
 Berpikir kritis/berdasarkan pengalaman
Deduktif – Induktif
 Metode penelitian Ilmiah
Kesimpulan ditarik berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan melalui prosedur yang obyektif, sistematis, jelas dan terkontrol
Penelitian Sebagai Pencarian Ilmiah
Penelitian merupakan suatu kegiatan untuk menemukan, mengembangkan pengetahuan dengan menggunakan metode-metode yang diorganisasikan secara obyektif sistematis dalam mengumpulkan, menganalisis dan menginterprestasikan data
Penelitian Pendidikan?
 Cara yang digunakan untuk mendapatkan info yang berguna dan dapat dipertanggungjawabkan dalam upaya untuk memahami proses kependidikan dengan menggunakan metode ilmiah
 Kegiatan sistematis untuk mencari jawaban yang benar/mendekati kebenaran tentang permasalahan pendidikan berdasarkan penalaran yang logis, rasional didukung oleh fakta empirik
Fungsi Penelitian Pendidikan
 Berperan dalam mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki praktik pendidikan
 Pemecahan masalah pendidikan terutama masalah yang berkenaan dg kualitas proses penddk, pengjrn, kualitas hasil pendidikan, efektifitas pendk
Sebagai Contoh :
fungsi berdasar jenis penelitian
 Penelitian Dasar ( basic research) diarahkan untuk pengujian teori
 Penelitian Terapan ( applied research) diarahkan untuk menguji manfaat dan teori-teori ilmiah
 Penelitian Evaluatif diarahkan untuk menilai keberhasilan kegiatan suatu program
 Penelitian Tindakan diarahkan untuk memperbaiki suatu masalah sosial
 Penelitian tindakan kelas diarahkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas
Tujuan Penelitian pendidikan
 Memperoleh informasi baru
 Mengembangkan dan menjelaskan
 Menerangkan dan memprediksi suatu ubahan/variabel
Ada 2 pendekatan penelitian
Penelitian Kuantitatif:
 Berpijak konsep positivistik: Berdimensi tunggal, tetap, fixed, penelitian dalam menjawab permasalahan penelitian memerlukan pengukuran yang cermat terhadap obyek yang diteliti guna menghasilkan kesimpulan yg bs digeneraliasasikan
Penelitian Kualitatif
 Berpijak pada konsep naturalistik:
berdimensi jamak, open, tidak mungkin disusun rancangan penelitian
Penelitian kuantitantif
 Berpijak pada konsep positivistik
 Berdimensi tunggal, fixed, stabil
 Hubungan antara peneliti dg obyek lepas, dg menggunakan instrumen standar
 Setting penelitian buatan lepas dari tempat dan waktu
 Menggunakan analisis kuantitatif/statistik
 Hasil penelitian berupa inferensi, generalisasi dan prediksi
Penelitian kualitatif
 Berpijak pada konsep naturalistik
 Kenyataan berdimensi jamak, utuh, terbuka, berubah
 Hubungan peneliti dg obyek berinteraksi, peneliti sebagai instrumen
 Setting penelitian alamiah, terkait tempat dan waktu
 Analisi subyektif, intuitif, rasional
 Hasil penelitian berupa deskripsi, interprestasi
Identifikasi masalah
SUMBER MASALAH
 Bacaan
 Pertemuan Ilmiah
 Pemegang Otoritas
 Intuisi
 Pengamatan
 Pengalaman
 Wawancara dan angket
 Observasi
 Refleksi Diri dll
Kriteria permasalahan yang baik
 Permasalahan sesuai dg bidang ilmu ( keahlian)
 Permasalahan sesuai minat calon peneliti
 Permasalahan memiliki kemanfaatan yang luas ( Arikunto ( 1999)
Pendapat dari yang lain intinya sama
Perumusan Masalah dalam penelitian Formal
 Rumusan Singkat dan bermakna
 Rumusan dalam bentuk kalimat tanya
 Masalah dirumuskan secara operasional
 Rumusan masalah mampu memberi petunjuk tentang memungkinkannya pengumpulan data untuk menjawab pertanyaan yang terkandung dalam masalah penelitian tersebut
Contoh : Apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa antara yang diajar dengan metode inkuiri dan metode problem solving pada mata pelajaran IPA SD Kelas VI?
Variabel dan Hipotesis dalam penelitian formal
 Variabel/Ubahan : gejala yang diteliti
 Simbol yang digunakan untuk mentransfer gejala kedalam data penelitian
Jenis-jenis variabel
1. variabel bebas (independent Variable)
Variabel Perlakukan/Intervensi, Input,
Prediktor, (variabel yang mempengaruhi)
2. Variabel terikat (dependent variable)
Variabel hasil/Out put, Kriteria, Respon
(Variabel yang dipengaruhi)
3. Variabel ekstranus (extraneous variable)
4. variabel Penyela (intervening variable)
5. Variabel moderator
6. Variabel kendali
Contoh :
 Metode Mengajar _ Prestasi Belajar
 Metode Mengajar merupakan variabel Bebas
 Prestasi belajar merupakan variabel terikat
 Variabel penyela/Intervening variable adalah proses belajar yang terjadi pada diri subyek, motivasi belajar
 Variabel Moderator : jenis kelamin
 Variabel kendali : Usia
 Exstranoues variabel : termasuk variabel bebas yang tidak dikontrol
Hipotesis
Hipotesis ?
 Adalah penjelasan /dugaan yang bersifat sementara kejadian atau peristiwa yang sudah atau akan terjadi
 Hubungan yang diduga logis antara 2 variabel atau lebih yang dapat diuji secara empiris
Fungsi hipotesis dalam penelitian kuantitatif
 Menjelaskan masalah penelitian dan pemecahannya secara rasional
 Menyatakan variabel penelitian yang perlu diuji secara empiris
 Digunakan sebagai pedoman untuk melakukan pengumpulan data
 Sebagai dasar untuk membuat kesimpulan
Rumusan hipotesis
Kriteria rumusan :
 Berupa pernyataan yang mengarah pada tujuan penelitian dengan maksud dapat diuji secara empiris
 Berpa pernyatan yang dikembangkan berdasarkan teori yang lebih kuat dari pada rivalnya.
Rumusan Hipotesis
 Hiipotesis nihil (null hipotesis) (Ho)
 Contoh : Tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa SD kelas !V antara yang diajar dengan menggunakan metode ceramah dan metode diskusi
 Hipotesis alternatif ( hipotesis kerja) (Ha)
 Dalam hipotesis sering digunakan hipotesis alternatif contoh
 Ada perbedaan prestasi belajar siswa SD kelas IV antara yang diajar dengan menggunakan metode ceramah dan metode diskusi
Populasi dan sampel
 Populasi adalah seluruh subyek didalam wilayah penelitian
 Sampel adalah bagian dari populasi
 Sampling adalah proses pemilihan sejumlah individu sebagai obyek penelitian sebagai perwakilan kelompok
TEKNIK SAMPLING
 Random sampling
 Non random sampling
Random sampling
 Simple Random Sampling
 Stratified Random Sampling
 Proporsional Stratified Random sampling
 Cluster Random Sampling
 Area Random sampling
 Two Stage Random Sampling
Non random sampling
 Systematic Sampling
 Purposive Sampling
 Convenience sampling
Penelitian eksperimen
Pengertian Penelitian Eksperimen
 Penelian eksperimen mencoba meneliti ada hubungan sebab akibat dg cara membandingkan satu atau lebih kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dg satu atau lebih dg kelompok pembanding yg tdk menerima perlakukan
Beberapa variasi penelitian eksperimen
 Eksperimen murni (true eksperiment)
 Eksperimen Semu (quasi eksperiment)
 Eksperimen lemah
 Eksperimen subyek tunggal
Tujuan Penelitian Eksperimen
 Menguji hipotesis yg diajukan dalam penelitian
Menarik generalisasi hubungan antar variabel
Karakteristik Penelitian Eksperimen
 Variabel penelitian diatur secara ketat
 Adanya kelompok kontrol sebagai base line
 Memusatkan diri pada pengontrolan variabel, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, dan meminimalkan variansi variabel pengganggu yang memungkinkan mempengaruhi hasil eksperimen
 Validitas internal
 Validitas eksternal
Kelompok eksperimen dan kelompok control
 Didalam penelitian eksperimen terdapat dua kelompok : kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
( kedua kelompok tersebut sedapat mungkin sama /homogin/mendekati sama karakteristiknya
 Kelompok eksperimen diberi pengaruh atau treatmen tertentu
Kelompok kontrol tidak diberikan
Faktor yang perlu dikontrol
 Latar belakang kebudayaan
 Kondisi hasil belajar siswa
 Ruangan kelas
 fasilitas
 Waktu Belajar
 latar belakang pendidikan guru
 Pengalaman mengajar
 Tingkat kedisiplinan
 Semua variabel yang bisa berpengaruh terhadap variabel terikat
Kesesatan dalam eksperimen
 Kesesatan/error : adanya perbedaan hasil eksperimen mutlak bukan dari tindakan tetapi sebagian dipengaruhi oleh variabel ekstra yang menyebabkan terjadinya perbedaan
 Ada kesasatan konstan dan tidak konstan
 Jenis kesesatan:
 Kesesatan tipe S (subyek)
 Kesesatan tipe G (Group)
 Kesesatan tipe R ( Replikasi)
Desain Eksperimen
 Desain Eksperimen suatu rancangan percobaan merupakan langkah-langkah lengkap yang perlu diambil sebelum eksperimen dilakukan agar data yang diperoleh akan membawa ke analisis obyektif dan kesimpulan yang valid
 Dalam penelitian eksperimen tidak terkonsentrasi pada satu jenis desain/pola eksperimen
 Setiap desain/pola mempunyai kelemahan dan kebaikan
 Peneliti harus mampu memilih desain eksperimen yang dapat dilaksanakan dan paling minim mengandung resiko kelemahan

Sumber: http://blog.unnes.ac.id/faza/2011/05/30/penelitian-eksperimen/

Pengertian dan Tata Cara Pembuatan Instrumen PTK


Menurut catatan Mashudi (http://mashudismada.wordpress.com/2009/03/29/instrumen-ptk-karya-tulis/), instrumen merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan PTK. Jenis instrumen dapat bermacam-macam dalam satu PTK. Jenis instrumen ini harus sesuai dengan karakteristik variabel atau masalah yang diamati. Triangulasi dan saturasi (kecukupan informasi) perlu diperhatikan untuk menjamin validitas data. Berikut ini adalah sumber-sumber data yang umum:
a.    Sumber yang sudah ada
b.    Pekerjaan siswa
c.    Arsip
d.    Kehidupan sehari-hari
•    Buku harian, catatan lapangan, dan jurnal
•    Video
•    Foto
•    Mengikuti kehidupan siswa (shadowing)
•    Ceklis untuk observasi dan skala penilaian (rating scale)
e.    Alat untuk bertanya
•    Wawancara
•    Survei
•    Tes
Sementara itu, dijelaskan secara lebih detail oleh Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Kisyani Laksono dalam  http://ptkguru.wordpress.com/2008/05/11/penelitian-tindakan-kelas%E2%80%94bentuk-dan-skenario-tindakan-serta-pengembangan-instrumen-untuk-mengukur-keberhasilan-tindakan/, yaitu mengenai bentuk dan skenario tindakan, serta pengembangan instrumen untuk mengukur keberhasilan tindakan sbb

Bentuk dan Skenario Tindakan

Gagas pendapat perlu dilakukan mengenai tindakan apa saja yang dapat memecahkan masalah yang dihadapi akan menghasilkan banyak alternatif tindakan yang dapat dipilih. Dosen dan guru perlu membahas bentuk dan macam tindakan (atau tindakan-tindakan) apa yang kira-kira paling dikehendaki untuk dicoba dan dilaksanakan dalam kelas. Bentuk dan macam tindakan ini kemudian dimasukkan dalam judul usulan penelitian yang akan disusun bersama oleh dosen dan guru. Tindakan yang dipilih dapat disebutkan sebagai suatu nama tindakan (misalnya penugasan siswa membaca materi pelajaran 10 menit sebelum pembelajaran) atau dalam bentuk penggunaan salah satu bentuk media pembelajaran (misalnya penggunaan peta konsep, penggunaan lingkungan sekitar sekolah, penggunaan sungai, dan seterusnya), atau dapat pula dalam bentuk suatu strategi pembelajaran (misalnya strategi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw atau STAD atau TGT atau GI, strategi pembelajaran berbasis masalah dan seterusnya). Bagaimana tindakan tersebut akan dilaksanakan dalam PTK perlu direncanakan dengan cermat. Perencanaan pelaksanaan tindakan ini dituangkan dalam bentuk Rencana Pembelajaran (RP) atau dalam bentuk Skenario Pembelajaran. Dalam makalah ini dilampirkan (Lampiran 2) contoh salah satu RP untuk pembelajaran dengan Problem Posing (Chotimah dkk., 2005).


Pengembangan Instrumen untuk Mengukur Keberhasilan Tindakan

Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) haruslah sejalan dengan prosedur dan langkah PTK. Instrumen untuk mengukur keberhasilan tindakan dapat dipahami dari dua sisi yaitu sisi proses dan sisi hal yang diamati.
Dari sisi proses
Dari sisi proses (bagan alirnya), instrumen dalam PTK harus dapat menjangkau masalah yang berkaitan dengan input (kondisi awal), proses (saat berlangsung), dan output (hasil).
a. Instrumen untuk input
Instrumen untuk input dapat dikembangkan dari hal-hal yang menjadi akar masalah beserta pendukungnya. Misalnya: akar masalah adalah bekal awal/prestasi tertentu dari peserta didik yang dianggap kurang. Dalam hal ini tes bekal awal dapat menjadi instrumen yang tepat. Di samping itu, mungkin diperlukan pula instrumen pendukung yang mengarah pada pemberdayaan tindakan yang akan dilakukan, misalnya: format peta kelas dalam kondisi awal, buku teks dalam kondisi awal, dst.
b. Instrumen untuk proses
Instrumen yang digunakan pada saat proses berlangsung berkaitan erat dengan tindakan yang dipilih untuk dilakukan. Dalam tahap ini banyak format yang dapat digunakan. Akan tetapi, format yang digunakan hendaknya yang sesuai dengan tindakan yang dipilih.
c. Instrumen untuk output
Adapun instrumen untuk output berkaitan erat dengan evaluasi pencapaian hasil berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Misalnya: nilai 75 ditetapkan sebagai ambang batas peningkatan (pada saat dilaksanakan tes bekal awal, nilai peserta didik berkisar pada angka 50), maka pencapaian hasil yang belum sampai pada angka 75 perlu untuk dilakukan tindakan lagi (ada siklus berikutnya).
Dari sisi Hal yang Diamati
Selain dari sisi proses (bagan alir), instrumen dapat pula dipahami dari sisi hal yang diamati. Dari sisi hal yang diamati, instrumen dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengamati guru (observing teachers), instrumen untuk mengamati kelas (observing classroom), dan instrumen untuk mengamati perilaku siswa (observing students) (Reed dan Bergermann,1992).
a. Pengamatan terhadap Guru (Observing Teachers)
Pengamatan merupakan alat yang terbukti efektif untuk mempelajari tentang metode dan strategi yang diimplementasikan di kelas, misalnya, tentang organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas, dsb. Salah satu bentuk instrumen pengamatan adalah catatan anekdotal (anecdotal record). Catatan anekdotal memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Catatan anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secara informal dalam bentuk naratif. Sejauh mungkin, catatan itu memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal tidak mempersyaratkan pengamat memperoleh latihan secara khusus. Suatu catatan anekdotal yang baik setidaknya memiliki empat ciri, yaitu:
1) pengamat harus mengamati keseluruhan sekuensi peristiwa yang terjadi di kelas,
2) tujuan, batas waktu dan rambu-rambu pengamatan jelas,
3) hasil pengamatan dicatat lengkap dan hati-hati, dan
4) pengamatan harus dilakukan secara objektif.
Beberapa model catatan anekdotal yang diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) dan dapat digunakan dalam PTK, antara lain:
a) Catatan Anekdotal Peristiwa dalam Pembelajaran (Anecdotal Record for Observing Instructional Events),
b) Catatan Anecdotal Interaksi Guru-Siswa (Anecdotal Teacher-Student Interaction Form),
c) Catatan Anekdotal Pola Pengelompokan Belajar (Anecdotal Record Form for Grouping Patterns),
d) Pengamatan Terstruktur (Structured Observation),
e) Lembar Pengamatan Model Manajemen Kelas (Checklist for Management Model),
f) Lembar Pengamatan Keterampilan Bertanya (Checklist for Examining Questions),
g) Catatan Anekdotal Aktivitas Pembelajaran (Anecdotal Record of Pre-, Whilst-, and Post-Teaching Activities) ,
h) Catatan Anekdotal Membantu Siswa Berpartisipasi (Checklist for Routine Involving Students), dsb.
b. Pengamatan terhadap Kelas (Observing Classrooms)
Catatan anekdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan terhadap segala kejadian yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di kelas. Di samping itu, pengamatan itu dapat menunjukkan strategi yang digunakan guru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas.
Beberapa model catatan anekdotal kelas yang diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) dan dapat digunakan dalam PTK, antara lain:
a) Format Anekdotal Organisasi Kelas (Form for Anecdotal Record of Classroom Organization),
b) Format Peta Kelas (Form for a Classroom Map),
c) Observasi Kelas Terstruktur (Structured Observation of Classrooms),
d) Format Skala Pengkodean Lingkungan Sosial Kelas (Form for Coding Scale of Classroom Social Environment),
e) Lembar Cek Wawancara Personalia Sekolah (Checklist for School Personnel Interviews),
f) Lembar Cek Kompetensi (Checklist of Competencies), dsb.
c. Pengamatan terhadap Siswa (Observing Students)
Pengamatan terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai hal yang menarik. Masing-masing individu siswa dapat diamati secara individual atau berkelompok sebelum, saat berlangsung, dan sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan.
Beberapa model pengamatan terhadap perilaku siswa diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain:
a) Tes Diagnostik (Diagnostic Test) ,
b) Catatan Anekdotal Perilaku Siswa (Anecdotal Record for Observing Students),
b) Format Bayangan (Shadowing Form),
c) Kartu Profil Siswa (Profile Card of Students),
d) Carta Deskripsi Profil Siswa (Descriptive Profile Chart),
e) Sistem Koding Partisipasi Siswa (Coding System to Observe Student Participation in Lessons),
f) Inventori Kalimat tak Lengkap (Incomplete Sentence Inventory),
g) Pedoman Wawancara untuk Refleksi (Interview Guide for Reflection),
h) Sosiogram, dsb
Adapun instrumen lain selain catatan anekdotal yang dapat digunakan dalam pengumpulan data PTK dapat berwujud:
(1) Pedoman Pengamatan.
Pengamatan partisipatif dilakukan oleh orang yang terlibat secara aktif dalam proses pelaksanaan tindakan. Pengamatan ini dapat dilaksanakan dengan pedoman pengamatan (format, daftar cek), catatan lapangan, jurnal harian, observasi aktivitas di kelas, penggambaran interaksi dalam kelas, alat perekam elektronik, atau pemetaan kelas (cf. Mills, 2004: 19). Pengamatan sangat cocok untuk merekam data kualitatif, misalnya perilaku, aktivitas, dan proses lainnya. Catatan lapangaan sebagai salah satu wujud dari pengamatan dapat digunakan untuk mencatat data kualitatif, kasus istimewa, atau untuk melukiskan suatu proses .
(2) Pedoman Wawancara
Untuk memperoleh data dan atau informasi yang lebih rinci dan untuk melengkapi data hasil observasi, tim peneliti dapat melakukan wawancara kepada guru, siswa, kepala sekolah dan fasilitator yang berkolaborasi. Wawancara digunakan untuk mengungkap data yang berkaitan dengan sikap, pendapat, atau wawasan .
Wawancara dapat dilakukan secara bebas atau terstruktur. Wawancara hendaknya dapat dilakukan dalam situasi informal, wajar, dan peneliti berperan sebagai mitra. Wawancara hendaknya dilakukan dengan mempergunakan pedoman wawancara agar semua informasi dapat diperoleh secara lengkap. Jika dianggap masih ada informasi yang kurang, dapat pula dilakukan secara bebas. Guru yang berkolaborasi dapat berperan pula sebagai pewawancara terhadap siswanya. Namun harus dapat menjaga agar hasil wawancara memiliki objektivitas yang tinggi.
(3) Angket atau kuesioner
Indikator untuk angket atau kuesioner dikembangkan dari permasalahan yang ingin digali.
(4) Pedoman Pengkajian Data dokumen
Dokumen yang dikaji dapat berupa: daftar hadir, silabus, hasil karya peserta didik, hasil karya guru, arsip, lembar kerja dll.
(5) Tes dan Asesmen Alternatif
Pengambilan data yang berupa informasi mengenai pengetahuan, sikap, bakat dan lainnya dapat dilakukan dengan tes atau pengukuran bekal awal atau hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen (cf. Tim PGSM, 1999; Sumarno, 1997; Mills, 2004).
Instrumen ini dikembangkan pada saat penyusunan usulan penelitian atau dikembangkan setelah usulan penelitian disetujui untuk didanai dan dilaksanakan. Keuntungannya bila instrumen dikembangkan pada saat penyusunan usulan adalah peneliti telah mempersiapkan diri lebih dini sehingga peneliti dapat lebih cepat mengimplementasikannya di lapangan. Pengukuran keberhasilan tindakan sedapat mungkin telah ditetapkan caranya sejak awal penelitian, demikian pula kriteria keberhasilan tindakannya. Keberhasilan tindakan ini disebut sebagai indikator keberhasilan tindakan. Indikator keberhasilan tindakan biasanya ditetapkan berdasarkan suatu ukuran standar yang berlaku. Misalnya: pencapaian penguasaan kompetensi sebesar 75% ditetapkan sebagai ambang batas ketuntasan belajar (pada saat dilaksanakan tes awal, nilai peserta didik berkisar pada angka 50), maka pencapaian hasil yang belum sampai 75% diartikan masih perlu dilakukan tindakan lagi (ada siklus berikutnya).

Contoh instrumen wawancara sebagai berikut ( bersumber dari http://ktiptk.blogspirit.com/archive/2009/01/24/instrumen-penelitian.html) sbb:

Pengembangan E-Learning Metode Pembelajaran IPS SD Dengan Pendekatan Inkuiri, Jigsaw, PBL, Group Investigation, TGT dan STAD

Pedoman Wawancara


Nama Guru      : ...........................................................................................................
SD                    : ...........................................................................................................
Kelas                : ...........................................................................................................
Pendidikan       : ..........................................................................................................
Pewawancara   : ...........................................................................................................
Hari/Tanggal    :...........................................................................................................
Jam wawancara: ..........................................................................................................


Pertanyaan:
  1. Berapa lama Bapak/Ibu Guru mengajar IPS di kelas ini?
..............................................................................................................................
…………………………………………………………………………………..

  1. Berapa jumlah siswa yang belajar IPS di kelas Bapak/Ibu?
Laki-laki:........................Orang      Perempuan: ............................... Orang
  1. Topik-topik apa saja yang dapat diselesaikan dalam pembelajaran IPS di kelas Bapak/Ibu?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
  1. Bagaimana cara Bapak/Ibu mengembangkan silabus IPS sebelum mengajar IPS di kelas?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
  1. Bagaimana cara Bapak/Ibu mengembangkan RPP IPS sebelum mengajar di kelas?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................

  1. Kesulitan apa saja yang Bapak/Ibu hadapi dalam melaksanakan pembelajaran IPS di kelas?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
  1. Apakah Bapak/Ibu guru pernah melaksanakan pembelajaran IPS dengan pendekatan inkuiri?
a.       Pernah, kesulitannya adalah
....................................................................................................................................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
b.      Belum,kesulitannya. ...............................................................................
.................................................................................................................
.................................................................................................................
.................................................................................................................
.................................................................................................................
.................................................................................................................
  1. Apakah Ibu guru pernah melaksanakan pembelajaran IPS dengan model Jigsaw?
a.       Pernah, kesulitannya adalah
....................................................................................................................................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
b.      Belum,kesulitannya. ...............................................................................
.................................................................................................................
.................................................................................................................
.................................................................................................................
.................................................................................................................
.................................................................................................................
  1. Apakah Ibu guru pernah melaksanakan pembelajaran IPS dengan model PBL?
a.       Pernah, kesulitannya adalah
....................................................................................................................................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
....................................................................................................................................................................................................................................
b.      Belum, kesulitannya. ...............................................................................
......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
  1. Apakah Ibu guru pernah melaksanakan pembelajaran IPS dengan model  Group Investigation?
a.       Pernah, kesulitannya adalah
..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
b.      Belum, kesulitannya. ...............................................................................
..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
  1. Apakah Ibu guru pernah melaksanakan pembelajaran IPS dengan model TGT?
a.       Pernah, kesulitannya adalah
..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
b.      Belum, kesulitannya. ...............................................................................
..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
  1. Apakah  Bapak/Ibu guru pernah melaksanakan pembelajaran IPS dengan model STAD?
a.       Pernah, kesulitannya adalah
............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
b.      Belum, kesulitannya. ...............................................................................
............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
  1. Bagaimana cara mengatasi kesulitan tersebut?
....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
  1. Bagaimana dampak penggunaan model inkuiri, Jigsaw, PBL, group investigation, TGT dan STAD dalam pembelajaran IPS di kelas?
a.       Aktivitas siswa?.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
b.      Kreativitas siswa ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
c.       Interaksi guru dan siswa...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
d.      Ketercapaian kompetensi.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
e.       Suasana menyenangkan ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
  1. Bagaimana pemanfaatan sumber belajar di dalam pembelajaran model inkuiri, Jigsaw, PBL, group investigation, TGT dan STAD dalam pembelajaran IPS di kelas?
a.       Lingkungan..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
b.      Buku teks .............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
c.       Nara sumber .............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
d.      Lainnya, sebutkan ......................................................................................