Showing posts with label variabel penelitian. Show all posts
Showing posts with label variabel penelitian. Show all posts

Monday, November 28, 2011

Pengertian Variabel Penelitian

Menurut catatan Rakim, penelitian merupakan kegiatan menguji hipotesis, yaitu menguji kecocokan antara teori dengan fakta empirik di dunia nyata. Hubungan nyata ini lazim dibaca dan dipaparkan dengan bersandar kepada variabel, sedangkan hubungan nyata lazim dibaca dengan memperhatikan data tentang variabel itu.
Variabel adalah suatu sebutan yang dapat diberi nilai angka (kuantitatif) atau nilai mutu (kualitatif). Variabel merupakan pengelompokan secara logis dari dua atau lebih atribut dari objek yang diteliti. Atribut itu misalnya : Tidak sekolah, tidak tamat SD, tidak tamat SMP. Maka variabelnya adalah tingkat pendidikan dari objek penelitian itu. Variabel tingkat pendidikan merangkum semua atribut tadi.
Variabel merupakan suatu istilah yag berasal dari kata vary dan able yang berarti “berubah” dan “dapat”. Jadi kata variabel berarti dapat berubah. Oleh sebab itu setiap variabel dapat diberi nilai, dan nilai itu berubah-ubah. Nilai itu berupa nilai kuntitatif maupun kualitatif. Ukuran kuantitatif maupun kualitatif suatu variabel adalah jumlah dan derajat atributnya.
Dilihat dari segi nilainya, variabel dibedakan menjadi dua, yaitu variabel diskrit dan variabel kontinu.. Variabel diskrit nilai kuantitatifnya selalu berupa bilangan bulat, Variabel kontinu nilai kuantitatifnya bisa berupa pecahan. Apabila diambil dua bilangan bulat yang wajar sebagai nilai variabel, terdapat tak hingga banyaknya angka-angka yang mungkin menjadi nilai dari variabel yang sedang diukur itu. Ini jika digambarkan akan memberi kesan bahwa nilai-nilai variabel itu bersambung atau kontinu.
Data adalah hasil pengukuran atau penghitungan nilai-nilai suatu variabel. Yang dimaksud dengan pengolahan data pada prinsipnya adalah upaya penyajian dan pembacaan hubungan-hubungan yang ada antarvariabel. Menurut Narbuko dan Ahmadi, hubungan antarvariabel dapat berupa: (a) Hubungan simetris, yaitu hubungan variabel yang satu tidak disebabkan oleh yang lainnya. (b) Hubungan timbal balik, yaitu hubungan suatu variabel dapat menjadi sebab dan akibat dari variabel lainnya, (c) Hubungan asimetris, yaitu hubungan variabel satu mempengaruhi variabel lainnya..
Yang termasuk hubungan variabel simetris: Pertama, kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. Misalnya: Kalau “mengerjakan cepat selesai” sedang “hasilnya tepat”, maka kedua variabel tersebut merupakan indikator dari seorang yang intelegen”. Hal ini dapat diartikan kalau “karena cepat” lalu “hasilnya tepat” atau sebaliknya; “jantung yang berdenyut semakin cepat sering dibarengi keluarnya keringat tanda kecemasan“ namun demikian, tidak kdapat dikatakan “jantung yang berdebar cepat menyebabkan tangannya berkeringat” dan sebagainya.
Kedua, variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama; meningkatkan pelayanan kesehatan dibarengi pula dengan bertambahnya pesawat udara. Kedua variabel tidak saling mempengaruhi, tetapi keduanya merupakan akibat dari peningkatan pendapatan. Ketiga, kedua variabel lsaling berkaitan secara fungsional, “dimana yang satu beradayang ;lainnya pun pasti di sana”. “Di mana ada guru, di sana ada murid”, di mana ada majikan, di sana ada buruh”. Kemmpat, “hubungan yang kebetulan semata-mata”. Seorang bayi ditimbang lalu mati keesokan harinya. Berdasarkan kepercayaan, kedua peristiwa tersebut dianggap berkaitan, tetapi di dalam penelitian empiris tidak dapat disimpulkan bahwa bayi tersebut meninggal karena ditimbang.
Hubungan timbal balik disini bukanlah hubungan, di mana tidak dapat ditentukan variabel yang menjadi sebab dan variabel lyang menjadi akibat. Tetapi yang dimaksudkan di sini adalah apabila suatu waktu, variabel x mempengaruhi variabel Y, sedang pada waktyu yang lain, variabel Y mempengaruhi variabvel X. Contohnya “ penanaman modal mendatangkan keuntungan dan pada gilirannya keuntungan akan memungk9nkan penanaman modal. Jelasnya: ‘variabel terpengaruh dapat menjadi variabel pengaruh”.
Dalam hubungan asimetris ini ada beberapa ketentuan hubungan sebagai berikut: Pertama, hubungan antara stimulus dan respons. Hubungan yang demikian itulah merupakan salah satu hubungan kausal, yang lazim dipengaruhi para ahli. Contonya, seorang insinyur pertanian mengamati adanya pengaruh pupuk terhadap buah yang dihasilkannya; seorang psikolog meneliti pengaruh kerasnya musik terhadap tingkah konsentrasi. Seorang pendidik mengamati pengaruh metode mengajar terhadap prestasi belajar para siswa.
Kedua, hubungan antara disposisi dan respon. Disosisi adalah kecenderungan untuk menunjukkan respons t ertentu dalam situasi tertentu, bila ‘stimulus” datangnya pengaruh dari luar dirinya, sedangkan “disposisi” berada dalam diri seseorang. Contoh: Sikap kebiasaan, nilai, dorangan, kemampuan, dan lain sebagainya. Suatu respon sering diukur dengan mengamati tingkah laku seseorang, misalnya: pemakaian konstrasepsi, migrasi, perilaku inivasi dan sebagainya.. Ketiga hubungan antara diri individu dan disosisi atau tingkah laku. Artinya ciri di sini adalah sifat individu yang relatif tidak berubah dan tidak dipengaruhi lingkungan, seperti seks, suku bangsa, kebangsaan, [pendidikan, dan lain-lain.
Keempat, hubungan antara parekondisi yang perlu de4ngan akibat tetentu. Contoh: agar pedagang kesil dapat memperluas usahanya diperlukan antara lain persyaratan pinjaman bank yang lunak, hubungan antara kerja keras dengan keberhasilan jumlah jam belajar dengan nilai yang diperoleh. Kelima, hubungan yang imanen antara dua variabel. Di dalam hubungan ini terdapat jalinan yang erat antara variabel satu dengan variabel yang lain. Jelasnya: apabila variabel yang satu berubah, maka variabel yang lain ikut berubah. Contonya hubungan antara semakin besarnya syatu organisasi dengan semakin rumitnya peraturan yang ada. Keenam, hubungan antara tujuan (ends) dan cara (means). Contonya: penelitian tentang hubungan antara kerja keras dan keberhasilan. Jumlah jam belajar dengan nilai yang diperoleh pada waktu ujian, besarnya penanaman modal dengan hasil keuntungan..
Pengukuran Variabel
Pengukuran variabel adalah penting bagi setiap penelitian sosial, karena dengan pengukuran itu penelitian dapat menghubungan kosep yang abstrak dengan realitas. Proses pengukuran mengandung empat kegiatan pokok sebagai berikut: Pertama, menentukan indikator untuk dimensi-dimensi variabel penelitian.. Variabel penelitian sosial pada umumnya memiliki lebih dari satu dimensi. Semakin lengkap dimensi yang digunakan dari satu variabel yang dapat diukur akan semakin baik hasil pengukurannya. Kedua menentukan masing-masing dimensi. Ukunan ini dapat berupa item (pertanyaan) yang relevan dengan dimensinya. Ketiga, menentukan ukuran yang akan digunakan dalam pengukuran apakah tingkat ukuran nominal oardinal, interval atau rasio. Keempat, menguji tingkat validitas dan areliabilitas sebagai kriteria alat pengukuran yang baik. Alat pengukur yang baik, apabila alat itu dapat mengungkap relaita itu dengan tepat.
Merumuskan definisi operasional variabel-variabel.
Setelah variabel-variabel diidentifikasikan, dan diklasifikasikan, maka variabel-variabel tersebut perlu didefinisikan secara operasional (Bridgman, 1972). Penyusunan definisi operasional ini perlu, karena difinisi operasional itu akan menunjuk alat pengambil data, mana yang cocok untuk dipergunakannya. Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan, yang dapat diamati (diobservasi), konsep yang dapat diamati, atau diobservasi merupakan hal sangat penting, karen hal yang dapat diamati itu embuka kemungkina bagi oarang lain, selain peneliti sendiri uantuk dilaksanakan, juga oarang lain dapat melakukan hal yang serupa, sehingga apa yang dilakukan oleh peneliti terbuka untuk kdiuji kembali oleh oarang lain.
Cara menyususn definisi operasional dapat bermacam-macam, yaitu: (1) yang mnekankan kegiatannya, apayang perlu dilakukan. Contoh frustasi adalah keadaan yang timbul sebagai akibat tercegahnya pencapaian hal sangat diinginkan yang sudah hampir tercapai. Lapar adalah keadaan individu yang timbul setelah ia tidak makan selama 24 jam. Definisi ini adalah yang menekankan perasi atau manipulasi apa yang harus dilakukan untuk menghasilkan keadaan atau hal yang didefinisikan, terutama berguna untuk mendefinisikan “variabel bebas”. (2) yang menekankan bagaimana kegiatan itu dilakukan. Conto: orang cerdas adalah orang yang tinggi kemampuannya dalaml memecahkan masalah, tinggi kemampuannya dalam menggunakan bahasa dan bilangan. Dosen yang otoriter adalah dosen yang menuntut mahasiswanya melakukn hal lyang dapat seperti yang digariskannya, suka memberi komando, dan mengutamakan khubungan formal dengan mahasiswanya. (3) yang menekankan sifat-sifat statis hal yang didefinisikan. Contoh: mahasiswa yang cerdas yaitu mahasiswa yang m,empunyai ingatan yang baik, mempunyai perbendaharaan yang baik, mempunyai perbendaharaan kata yang luas, mempunyai kemampuan berpikir baik, mempunyai kemampuan berhitung baik.
Ekstraversi adalah kecenderungan lebih suka ada dalam kelompok daripada seorang diri. Setelah membuat definisi operasional sebagaimana contoh-contoh tersebut di atas, selanjutnya poeneliti menunjuk kepada “alat” yang dipergunakan untuk mengambil data-datanya. Setelah definisi operasional variabel-variabel penelitian selesai dirumuskan, maka prediksi yang terkandung dalam hipotesis telah dioperasionalisasikan. Jadi peneliti telah meneliti prediksi tentang kaitan berbagai variabael penelitiannya itu secara oprasional dan siap diuji melalui data empiris.
Variabel Antara
Setelah asumsi dasar di dalam ilmu pengetahuan adalah, bahwa gejala sesuatu harus ada sebab musababnya dan tidak begitu saja terjasdi dengan sendirinya. Khusus di dalam ilmu sosial, setiap fenomena dipengaruhi oleh serangkaian sebab musabab. Oleh katrena itu setiap kita menentukan sebab dari suatu fenomena, selalu akan timbul pertanyaan, apakah sebab yang l;ainnya? Apakah sebab yang pertama berpengaruh langsung pada fenomena tersebut, ataukah tidak langsung dan melalui sebab yang lainnya? Pertanyaan yang terkhir ini mengantarkan kitra ke suatu faktor penguji yang penting, yaitu “variabel antara”.
Untuk mengatur rangkaian sebab musabab suatu fenomena, tentu saja lewat pengamatan serta akal sehatlah di samping teori-teori yang menjadi pedoman. Namun, di dalam arangkaian sebab akibat itu, suatu variabel akan disebut “variabel antara” apabila, dengan masuknya variabel tersebut hubungan statistik yang mula nampak antara dua variabell menjadi lemah atau bahkan lenyap. Hal ini disebabkan oleh hubungan yang semula nampak antara kedua variabel pokok bukanlah suatu hubungan yang langsung, tetapi melalui hubungan variabel yang lain. (Danim menyebut variabel pengaruh adalah variabel bebas, variabel terpengaruh adalah variabel terikat)
BVariabel Antara
A
Variabel Pengaruh
C
Variabel Terpengaruh




Keterangan:
Garis putus-putus berarti mungkin berhubungan langsung, mungkin tidak
Untuk dapat menentukan bahwa diantara tiga kelompok variabel terdapat variabel antara diperlukan tiga hubungan asimetris: A dan B, B dan B, A dan C.
Contoh variabel antara
Variabel Pengaruh
Variabel Antara
Variabel Terpengaruh
Agama

Umur

Jenis Perusahaan
Integrasi dalam masyarakat

Pendidikan

Karakteristik buruh
Bunuh diri

Kebiasaan membaca

Upak


Menurut para ahli sosiologi, agama hanya akan mempengaruhi frekuensi bunuh diri karena agama erat hubungannnya dengan integrasi seseorang di dalam masyarakat. Kebiasaan membaca menunjukkan hubungan yang positif dengan umur, tetapi hanya melalui suatu variabel antara, yaitu pendidikan: seorang lanjut usia yang tidak sekolah tidak akan lebih banyak membaca dibandingkan pada masa mudanya. Sebuah teori sumber daya manusia membuat hipotesis bahwa perusahaan asing dan perusahaan besar membayar upah lebih tinggi akrena mempeperjakan buruh dengan karakteristrik yang menjamin produktivitas perusahaan, (misalnya berpendidikan tinggi, terampil, dan perpengalaman).
Contoh tersebut di atas menunjukkan dua kemungkinan: (a) variabel pengaruh dapat melalui variabel antara. (b) Dapat langsung mempengaruhi variabel terpengaruh.
Variabel Anteseden
Variabel anteseden mempunyai kesamaan dengan variabel antara, yakni merupakan hasil yang lebih mendalam dari penelusuran hubungan kausal antara variabel. Perbedaannya, “variabel antara” menyusut diantara variabel pokok, sedangkan variabel anteseden mendahululi variabel pengaruh.
A
Variabel Anteseden
B
Variabel Pengaruh
C
Variabel Terpengaruh


Realilta hubungan antara dua variabel sebenarnya merupakan penggalan dari sebuah jalinan sebab akibat yang cukup panjang. Oleh karena itu, setiap usaha untuk mencari jalinan yang lebih jauh, seperti halnya dengan variabel antisenden – akan memperkaya pengertian kita tentang fenomena yang sedang diteliti.
Contoh variabel anteseden:
Kita memlilki data yang menunjukkan bahwa apabila pendidikan seseorang rendah, pengetahuan politiknyapun rendah. Jadi yang hendak diterangkan adalah hubungan antara pendidikan dengan pengetahuan politik.
Skema hubungannya sebaga berikut:
pendidikan
Pengetahuan politik


pendidikan

Pengetahuan politik
Status sosial ekonomi orang tuaDalam memperjelas hubungan ini kadang=-kadang perlu ditelusuri variabel apa yang mempengaruhi pendidikan. Status sosial ekonomi orang tua, dalam teori, sering dipandang sebagai variabel yang mempengaruhi pendidikan seseorang. Dengan demikian, kita dapat membuat postulat bahwa:



Adanya variabel anteseden ini menambah pengetahuan kita tentang hubungan antara pendidikan dan pengetahuan politik. Dengan demikian kita katakan: “Latar belakang keluarga seseorang (status sosial ekonomi orang tua) menentukan tingkat pendidikannya dan pendidikannya menentukan tingkat pengetahuan politiknya”.
Kerangka teori serta akal sehatlah yang pertama-tama menentukan apakah suatu variabel dapat dipertimbangkan sebagai variabel anteseden. Untuk dapat diterima sebagai variabel anteseden, syarat-syaratnya sebagai berikut: (a) ketika variabel harus saling berbubungan: variabel anteseden dan variabel pengaruh, variabel anteseden dan variabel terpengaruh, variabel pengaruh dan variabel terpengaruh. (b) apabila variabel anteseden dikontrol, hubungan antara variabel pengaruh dan variabel terpengaruh tidak lengkap. Dengan kata lain: variabel anteseden tidak mempengaruhi hubungan antara kedua variabel pokok, (c) apabila variabel pengaruh dikontrol, hubungan antara variabel anteseden dan variabel lterpengaruh harus lengkap. (Masri Singarimbun, 1982).
Kesimpulan
Variabel penelitian ditentukan oleh landasan teoritisnya dan kejelasannya ditegaskan oleh hipoteses penelitian. Menurut fungsinya variabel penelitian dibedakan menjadi: Variabel tergantung (terikat), variabel bebas, variabel intervening, variabel moderator, variabel kendali, dan variabel rambang.
Sedang menurut datanya, variabel penelitian dapat dibedakan menjadi: variabel nominal, variabel ordinal, variabel interval, dan variabel rasio. Variabel menurut nilainya dibedakan menjadi variabel diskrit dan variabel kontinu.

Daftar Pustaka

Bridgman, P. W. 1972. The Logic of Modern Physics. New York: M.C. Milan
Danim, S. 2007. Metode Penelitian: Untuk Ilmu-Ilmu Perilaku> Jakarta: Bumi Aksara
Narbuko, C. dan Ahmadi, A. 2007. Metodologi Penelitian: Memberi Bekal Teoritis kepada Mahasiswa tentang Metodologi Penelitian serta Diharapkan dapat Melaksanakan Penelitian dengan Langkah-Langkah yang Benar. Jakakrta Bumi aksara
Singarimbun, Masri. 1984. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.

Sumber artikel: http://rakim-ypk.blogspot.com/2008/06/pengertian-variabel.html (29-11-2011)

Monday, October 31, 2011

Cara Menentukan Variabel Penelitian

Menurut catatan Desi Wulandari dalam http://destiwd.blogspot.com/2011/10/penentuan-variabel-penelitian-dan.html.,ia menjelaskan bahwa variabel adalah konsep yang diberi lebih dari satu nilai. Setelah mengemukakan beberapa proposisi berdasarkan konsep dan teori tertentu, peneliti perlu menemukan variabel penelitian dan selanjutnya merumuskan hipotesa berdasarkan hubungan antar variabel. Di samping berfungsi sebagai pembeda, variabel juga berkaitan dan saling memengaruhi satu sama lainnya. Bentuk variabel :
§     Variabel diskrit : dinyatakan dengan angka utuh (hasil perhitungan)
§     Variabel bersambungan : dapat dinyatakan dalam angka pecahan (hasil pengukuran)
Agar dapat dikelompokkan menjadi satu variabel, dua / lebih atribut tidak boleh ‘tumpang tindih’ (mutually exclusive). Atribut dalam suatu variabel harus mencakup semua kemungkinan yang ada dalam suatu variabel (exhaustive). Dalam penyusunan kuesioner, atribut suatu variabel perlu diketahui secara lengkap. Contoh, merah dan putih adalah dua dari sejumlah atribut dalam variabel warna.
Jenis Hubungan Antar Variabel
A.                Hubungan Simetris
Variabel yang satu tidak disebabkan / dipengaruhi oleh yang lainnya. Empat kelompok hubungan simetris :
1.      Kedua variabel merupakan indikator sebuah konsep yang sama.
2.      Kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama.
3.      Kedua variabel saling berkaitan secara fungsional, dimana satu berada yang lainnya pun pasti disana.
4.      Hubungan yang kebetulan semata-mata.
B.                 Hubungan Timbal Balik
Hubungan dimana suatu variabel dapat menjadi sebab dan juga akibat dari variabel lainnya. Variabel terpengaruh dapat menjadi variabel pengaruh pada waktu lain. Contoh, variabel X mempengaruhi variabel Y, pada waktu lainnya varaibel Y mempengaruh variabel X.
C.                Hubungan Asimetris
Satu variabel mempengaruhi variabel yang lainnya. Enam tipe hubungan asimetri :
1.      Hubungan antara stimulus dan respons. Hubungan kausal yang umumnya dileliti dalam ilmu eksakta, psikologi dan pendidikan. Prinsip selektivitas adalah data dasar yang memperhatikan bahwa kedua kelompok sesungguhnya sama dalam keterbukaan terhadap pengaruh luar sebelum mendapat stimulus.
2.      Hubungan antara disposisi dan respons. Disposisi adalah kecendrungan untuk menunjukkan respons tertentu dalam situasi tertentu yang berada dalam diri. Misal, hubungan kepercayaan dengan kecendrungan makan obat tradisional.
3.      Hubungan antara ciri individu dan disposisi / tingkah laku. Ciri yaitu sifat individu yang relatif tidak berubah dan tidak dipengaruhi lingkungan.
4.      Hubungan antara prakondisi yang perlu dengan akibat tertentu. Misal, agar pedagang kecil dapat memperluas uasaha perlu persyaratan pinjaman bank yang lunak.
5.      Hubungan yang imanen antara dua variabel. Bila variabel satu berubah maka variabel yang lainnya akan berubah.
6.      Hubungan antara tujuan dan cara. Misal, kerja keras dan keberhasilan.
Berbagai Hubungan Asimetris
A.                Hubungan Asimetris Dua Variabel
Hubungan antara “variabel pengaruh” dan “varaibel terpengaruh” akan disebut variabel pokok. Hubungan keduanya merupakan titik pangkal analisa dalam ilmu sosial. Dalam ilmu sosial hubungan tunggal antar satu variabel dengan variabel lainnya tidak pernah ada dalam realita.
B.                 Hubungan Asimetris Tiga Variabel
Pengaruh variabel ketiga / keempat dapat “dikontrol” melalui sistem analisa maupun cara penentuan sampel. Menetralisasi pengaruh variabel luar dengan memasukkannya sebagai variabel kontrol / variabel penguji dalam analisa. Akal sehat, teori dan hasil empiris dari penelitian lain merupakan pedoman untuk menentukan variabel kontrol dalam penelitian. Selain dengan memasukkan variabel ketiga kedalam analisa, dapat juga mengontrol pengaruh variabel luar melalui penentuan sampel.
1.      Variabel penekanan dan variabel pengganggu
Dari hasil analisa awal disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antar dua variabel tetapi ketika variabel kontrol dimasukkan, hubungan menjadi nampak. Variabel kontrol dalam kasus ini disebut variabel penekan (suppressor variable).
Masuknya variabel ketiga dalam analisa dua variabel dapat memberikan hasil yang berlawanan dengan hasil analisa dua variabel saja. Variabel ketiga dalam kasus ini disebut variabel pengganggu (distorter variable).
2.      Variabel-antara
Segala sesuatu ada penyebabnya, dan tidak begitu saja terjadi. Variabel antara jika masuknya variabel ini hubungan statistik yang semula nampak antara dua variabel menjadi lemah / lenyap. Karena hubungan yang semula nampak antar kedua variabel pokok bukanlah suatu hubungan yang langsung tetapi melalui variabel yang lain.
Untuk dapat menentukan diantara 3 (kelompok) variabel terdapat variabel-antara, diperlukan 3 hubungan asimetris. A dan B, B dan C, A dan C (lihat gambar di atas).
Menurut Davis dan Blake (1956) variabel sosial budaya tidak dapat mempengaruhi fertilitas secara langsung tapi melalui variabel-antara dinamakan variabel Davis-Blake. Variabel pengaruh dapat melalui variabel antara mempengaruhi variabel2 antara, dapat secara langsung mempengaruhi variabel terpengaruh.
3.      Variabel anteseden
Hasil yang lebih mendalam dari penelusuran hubungan kausal antar variabel. Dan mendahului variabel pengaruh.
Dalam realita, hubungan antar dua variabel merupakan penggalan dari sebuah jalinan sebab akibat yang panjang. Setiap usaha mencari jalinan yang lebih jauh seperti variabel anteseden akan memperkaya pengertian tentang fenomena yang sedang diteliti.
Kerangka teori serta akal sehat yang menentukan suatu variabel dapat dipertimbangkan sebagai variabel anteseden. Untuk itu perlu 3 syarat yaitu :
§    Ketiga variabel saling berhubungan, variabel anteseden dan variabel pengaruh, variabel anteseden dan variabel terpengaruh, variabel pengaruh dan variabel terpengaruh.
§    Variabel anteseden dikontrol, hubungan antar variabel pengaruh dan variabel terpengaruh tidak lenyap. Variabel anteseden tidak mempengaruhi hubungan antar kedua variabel pokok.
§    Variabel pengaruh dikontrol, hubungan antar variabel anteseden dan variabel terpengaruh harus lenyap.
Kesimpulan
Hubungan antar variabel sosial cukup kompleks. Tugas peneliti adalah mencari hubungan yang menarik dan penting, yang menerangkan maslah yang diamati. Hubungan tersebut dikaitkan dengan teori dan hasil penelitian orang lain, dan dirumuskan dalam bentuk hipotesa. Konsep pokok diukur dengan variabel yang diberi definisi khusus oleh peneliti, agar dapat menguji hipotesa penelitian. Penggolongan dan penyederhanaan hubungan agar mudah dimengerti. Mempelajari masalah, hubungan dan memilih variabel dapat menjelaskan hubungan sosial yang dianggap perlu diperhatikan. Penelitian dari orang lain, pengamatan secara akal sehat, pedoman baik menentukan variabel kontrol yang tepat. 
Sumber: http://destiwd.blogspot.com/2011/10/penentuan-variabel-penelitian-dan.html