Tuesday, November 29, 2011

Penelitian Kualitataif dan Teknik Analisis Data Miles and Huberman

Menurut Suratno dalam makalah yang disampaikan dalam Seminar Metodologi Penelitian pada tanggal 05 April 2010 di Program Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin dan dilansir dalam situs www.pps-antasari.ac.id/dwn/penelitian%20kualitatif.doc, ia menyebutkan bahwa kecenderungan dewasa ini penelitian kualitatif semakin mendapat tempat di hati para peneliti karena beberapa alasan yang antara lain bahwa ilmu-ilmu fisik memang dapat ditentukan di laboratorium karena memiliki uniformitas fisis yang tetap, sebaliknya perilaku sosial merupakan gejala unik yang uniformitasnya tidak dapat ditentukan sebelumnya; selain itu tingkah laku sosial terdapat bukan hanya seperangkat penilaian yang seragam tetapi setumpuk kecenderungan, kepentingan dan cita-cita yang kacau dan saling bersaingan; akhirnya dunia ini merupakan sesuatu yang komplek dan ganda. Pendekatan kuantitatif terasa ada ketidak sesuaian paradigma untuk menangani masalah-masalah empiris sosial seperti ini. Muncullah paradigma baru yakni pendekatan kualitatif.

Pendekatan kualitatif dilandasi oleh filsafat fenomenologis yang implementasinya mengenal berbagai istilah seperti naturalistik, etnometodologi, dan interaksi simbolik. Dalam mendisain penelitian kualitatif yang perlu diingat bahwa selain jenis kasusnya harus jelas, studinya apakah kasus tunggal ataukah multi kasus atau multi situs, demikian pula landasan teori yang digunakan sebagai pendekatan apakah fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, dan etnometodologi sebagai arah bagi pengumpulan dan analisis datanya.

1.      Jenis dan Ciri Metode Penelitian Kualitatif

Beberapa karekterisitik penelitian kualitatif, antara lain dapat disebutkan :
a)      Pengungkapan makna (meaning) merupakan hal yang esensial;
b)      Latar alami (natural setting) sebagai sumber data langsung;
c)      Peneliti sendiri merupakan instrumen kunci.
d)      Data kualitatif untuk mengungkap realitas ganda antara peneliti dan informan.
e)      Sampel bertujuan (purposive sampling) sehingga mengutamakan data langsung.
f)        Analisis data induktif, lebih memudahkan pendeskripsian konteks yang muncul.
g)      Teori mendasar (grounded theory), yaitu mengarahkan penyusunan teori yang mendasar dan dari lapangan langsung.
h)      Disain bersifat sementara karena pola lapangan sulit dibakukan terlebih dahulu, disain tampil dalam proses penelitian (emergent, evolving, developing).
i)         Pensepakatan hasil terhadap makna dan tafsir atas data langsung dari sumbernya.
j)        Modus laporan studi kasus agar terhindar dari bias akibat interaksi peneliti dengan responden.
k)      Penafsiran idiografik atau keberlakuan khusus yang diarahkan dalam penafsiran data kualitatif, bukan nomotetik (keberlakuan umum).
l)        Aplikasi tentatif akibat realitas ganda dan berbeda-beda.
m)    Ikatan konteks terfokus, karena tuntutan pendekatan holistik.
n)      Kreteria keabsahan, meliputi kredibilitas, transferbilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas.

Dalam penelitian kualitatif, peneliti  sewajarnya harus masuk kelatar tertentu yang sedang diteliti karena  concern nya dengan konteks. Bagi peneliti kualitatif fenomena dapat dimenegrti maknanya secara baik apabila dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara mendalam dan diobservasi pada latar dimana fenomena tersebut sedang berlangsung. Oleh karena itu teknik wawancara dan observsi dalam penelitian kualitatif merupakan teknik yang digunakan. Disamping itu peranan teknik dokumentasi sangat penting, karena bahan-bahan yang di tulis oleh atau tentang subyek seringkali digunakan untuk melengkapi data yang diperlukan.

Data yang sedang dan telah dikumpulkan melalui teknik-teknik diatas harus dilacak, diorganisasi, dipilah, disintesis, dicari polanya, diinterpretasi dan disajikan agar peneliti dapat menangkap makna fenomena serta dapat mengkomunikasikan kepada orang lain. Proses ini dalam penelitian kualitatif merupakan rangkaian analisis data.

Dalam uraian selanjutnya akan disajikan tentang teknik pengumpulan data yang meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi serta teknik dan model analisis data.

2.      Teknik Pengumpulan Data

2.1  Teknik Wawancara
Menurut Lincoln dan Guba (1985) dalam A. Sonhadji K.H (1994) wawancara dinyatakan sebagai suatu percakapan dengan bertujuan untuk memperoleh kontruksi yang terjadi sekarang tentang orang, kejadian, aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, pengakuan, kerisauan dan sebagainya ; selanjutnya rekonstruksi keadaan tersebut dapat diharapkan  terjadi pada masa yang akan datang ; dan merupakan verifikasi, pengecekan dan pengembangan  informasi  ( konstruksi, rekonstruksi dan proyeksi) yang telah didapat sebelumnya.

Tahap-tahap wawancara meliputi :
·        Menentukan siapa yang diwawancarai
·        Mempersiapkan wawancara
·        Gerakan awal
·        Melakukan wawancara dan memelihara agar wawancara produktif
·        Menghentikan wawancara dan memperoleh rangkuman hasil wawancara

Pada tahap pertama peneliti menentukan dimana dan dari siapa data akan dikumpulkan . Kegiatan ini juga meliputi penentuan bahan-bahan dan identifikasi informan yang diperlukan dalam wawancara. Pada tahap kedua  mencakup pengenalan karakteristik  dari responden. Semakin elite responden, maka makin penting untuk mengetahui informasi lebih banyak tentang responden. Selain itu peneliti harus menyiapkan urutan pertanyaan, peran, pakaian, tingkat formalitas, dan konfirmasi waktu dan tempat. Tahap ketiga adalah gerakan awal, dimana penelti melakukan semacam  Warming Up” yaitu mengajukan pertanyaan yang bersifat “grand tour” agar responden dapat memperoleh kesempatan dan mengalami dalam suasana yang  santai tetapi mampu memberikan informasi yang berharga., juga berkemampuan untuk mengorganisasikan jalan pikirannya sendiri., dengan mengajukan pertanyaan secara umum yang akan dirinci pada waktu wawancara selanjutnya.

Pada tahap keempat pertanyaan diajukan secara khusus (spesifik), agar dipelihara produktifitas proses wawancara. Tindakan menhentikan wawancara, apabila peneliti telah banyak mendapatkan informasi yang melimpah; serta baik peneliti maupun responden sudah capai. Tindakan berikutnya peneliti harus merangkum dan mencek kembali yang telah dikatakan oleh responden dan barang kali responden ingin menambah informasi yang telah diberikannya.

Menurut Seidnan (1991) terdapat tiga rangkaian wawancara :
·        Wawancara yang mengungkap konteks pengalaman partisipan (responden)
·        Wawancara yang memberi kesempatan partisipan untuk merekonstruksi pengalamannya.
·        Wawancara yang mendorong partisipan untuk merefleksi makna dari pengalaman yang dimiliki.

Pada wawancara pertama, pewawancara mempunyai tugas membawa pengalaman partisipan  kedalam konteks dengan meminta partisipan bercerita sebanyak mungkin tentang dirinya  sesuai dengan topik pembicaraan , dalam kurun waktu sampai sekarang. Kegiatan ini disebut wawancara  sejarah hidup terfokus  (focused life history). Adapun tujuan wawancara kedua adalah untuk mengkonsentrasikan rincian konkret tentang rincian pengalaman partisipan sekarang, sejalan dengan topik studi. Misalnya dalam penelitian tentang guru dan mentor dalam suatu situs klinis, kita bertanya pada mereka tentang apa yang sebenarnya dilakukan dalam pekerjaannya. Wawancara ketiga adalah refleksi makna. Dalam hal ini partisipan diminta merefleksi makna pengalaman yang dimilikinya. Pertanyaan “makna” bukan merupakan  pertanyaan yang memuaskan, sekalipun isi ini memegang peran yang penting untuk mengungkap pikiran partisipan. Pertanyaan – pertanyaan  seperti ini mungkin muncul, menurut anda memberi kesan apa kehidupan anda sebelum menjadi guru, dan kehidupan anda sekarang seperti yang anda katakan ?. Kemudian dapat diteruskan “pengalaman-pengalaman”  anda tersebut apa bermanfaat untuk menghadapi kehidupan yang akan datang.

Apabila suatu penelitian melibatkan wawancara yang ekstensif, atau wawancara merupakan teknik utama, direkomendasikan untuk menggunakan tape recorder. Tulisan  lengkap dari rekaman ini dinamakan transkrif  wawancara. Transkrif wawancara merupakan data  pokok dari penelitian wawancara.

Contoh Transkrif Wawancara

P




K






P


K
:




:






:


:
(Pewawancara). Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan tentang klub tennis lapangan kita Pak (Pak Bakri Mengangguk) . Pertama itu, apakah klub tennis FIA itu memang mempunyai anggota tetap Pak ?

(Pak Bakri) Ya kita memang mempunyai anggota tetap. Mereka itu yang selalu datang pada hari-hari latihan. Sebagai ikatan keanggotaanya, mereka di pungut iuran perbulan. Dulu Rp. 2.500,- tetapi sekarang sisa Rp. 1.500,- karena lapangannya itu milik kantor sendiri , ya kita tidak perlu bayar lagi . Anggotanya itu, Pak Aris bisa lihat diatas (sambil menunjuk ruangan Sub Bagian Keuangan dan  Kepegawaian).

Di lapangan tennis ; Bapak sering disebut-sebut “manager”.
Bagaimana prosesnya sehingga muncul sebutan itu ?

Sebenarnya ya, tidak pernah diangkat secara resmi bahwa saya manager. Cuma mungkin dari asal mulanya terbentuk kelompok B. Saya kan yang mula-mula mengajak teman-teman pergi main, juga urus bola, dan sebagainya. Mungkin dari situ sehingga saya disebut sebagai manager.

Sumber : Arismunandar (1992 : 209) dalam A. Sonhadji KH. (1994 : 65)

Teknik transkrif wawancara model lain, yang dibuat oleh Arifin (1992) dengan mengadopsi teknik Danandjaja (1994) yang pernah dibuat meneliti folklere dan kebudayaan petani desa  Trunyan di Bali. Teknik ini tidak memasukan unsur peneliti (sebagai pewawancara). Melainkan langsung  dari hasil wawancara yang dituangkan dalam formulasi kalimat (teknik seperti ini biasanya dilakukan peneliti yang sering menggunakan kaset perekam dalam mewawancarai responden), selanjutnya pertanyaan peneliti dianggap sebagai otobiografi peneliti lapangan. Pertanyaan bisa dengan menggunakan kode-kode.

Contoh adalah Kode : 43/11-W/PP/26-VII/91 dapat dibaca sebagai berikut :
Nomor transkrif 43, responden berkode 11, hasil wawancara, topik proses pendidikan, tanggal 26 Juli 1991.

FORMAT RINGKASAN HASIL WAWANCARA

Sumber data
Peneliti
Peringkas

: ----------------------------------
: ----------------------------------
: ----------------------------------

Tanggal : -----------
Mulai s/d Jam:

Kode
Masalah
Kode
Data
Kode
Teknik
Isi Ringkasan Data

Isi
Sifat


















Keterangan :
Kode Masalah             : diisi kemudian, setelah data terkumpul
Kode Isi Data              : S = berkenaan dengan substansi masalah
                                      K = berkenaan dengan koteks/latar masalah
Kode Sifat Data          : F = faktual, R = refleksi, FD = faktual diragukan
                                      RD = refleksi diragukan
Kode Teknik                : W = wawancara, O = observasi, D = dokumentasi
                                      (kemungkinan gabungan beberapa teknik)
Komentar Peneliti       : …………………………………………………………….
                                      ……………………………………………………………..

2.2 Teknik Observasi

Teknik observasi ini mula-mula dipergunakan dalam etnografi. Etnografi adalah studi tentang suatu kultur. Tujuan utama etnografi ini adalah memahami suatu cara hidup dari pandangan orang-orang yang terlibat didalamnya. Spradley (1980) mengemukakan tiga aspek  pengalaman manusia, apa yang dikerjakan (cultural behavior) apa yang diketahui (cultural knowledge) dan benda-benda apa yang dibuat dan dipergunakan (cultural artifacts), ketiga aspek ini yang dipelajari , apabila seorang peneliti ingin memahami suatu kultur.

Lincoln dan Guba (1985) dalam A. Sonhadji K.H. , mengklasifikasikan observasi menurut tiga cara :
·        Pertama, pengamat dapat bertindak sebagai  seorang partisipan atau non partisipan ,
·        Kedua, observasi dapat dilakukan secara terus terang (overt) atau penyamaran (convert). Walaupun secara etis dianjurkan untuk terus terang, kecuali untuk keadaan tertentu yang memerlukan penyamaran. 
·        Ketiga menyangkut latar peneliti. Observasi dapat dilakukan pada latar “alami” atau “dirancang” (analog dengan wawancara tak struktur dan wawancara terstruktur). Untuk observasi yang dirancang bertentangan dengan prinsif pendekatan kualitatif, yaitu fenomena diambil maknanya dari konteks sebanyak dari karateristik individu yang berada dalam konteks tersebut. Oleh karena itu teknik observasi yang kedua ini tidak dilakukan dalam penelitian kualitatif.

Tingkat Partisipasi dalam Observasi

Setiap observasi memiliki gaya yang berbeda-beda. Salah satu perbedaan adalah derajat keterlibatan peneliti, baik dengan orang maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diamati. Menurut Spradley (1980) terdapat 3 derajat keterlibatan yaitu tanpa keterlibatan (no involvement) keterlibatan rendah (low) dan keterlibatan tinggi (high). Variasi ini tercermin dalam 5 tingkat partisipasi, yaitu non partisipasi (nonparticipation), partisipasi pasif (passive participation), partisipasi moderat (moderate participation), partisipasi aktif (active participation) dan partisipasi lengkap (complete participation).

Non partisipasi merupakan skala yang paling rendah yaitu pengamat tidak terlibat dengan orang atau kegiatan yang diteliti, disini peneliti mengumpulkan data dengan pengamatan saja, kadang penelitian seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang sangat pemalu yaitu mereka yang ingin meneliti, tetapi tidak mau melibatkan diri misalnya observasi dengan menonton soap opera di telivisi.

Pada pasrtisipasi pasif peneliti hadir dalam peristiwa tetapi tidak berpartisipasi atau berinteraksi dengan orang lain. Biasanya pengamat membuat sebuah pos observasi dari sini pengamat mengamati dan merekam apa yang sedang terjadi. Contoh seorang peneliti berada diruang pengadilan sebagai spectator dari suatu sidang  untuk mengamati tertuduh, hakim, jaksa, panitera dan spectator lainnya kemudian baru melakukan wawancara.

Partisipasi moderat terjadi bila peneliti mempertahankan adanya keseimbangan antara sebagai orang dalam (insider) dan orang luar (outsider) yaitu antara partisipan dan pengamat. Misalnya seorang peneliti ingin mengamati sebuah permainan . Ia bertindak sebagai penonton yang mengamati sambil ikut bermain tetapi ia tidak pernah tampil atau memiliki status sebagai pemain reguler.

Derajat keterlibatan yang tertinggi terjadi apabila peneliti merupakan parsipan biasa. Keterlibatan seperti ini dinamakan partisipasi lengkap, contoh seorang peneliti ingin mempelajari perilaku penumpang bis, ia sendiri setiap hari bertindak sebagai penumpang bis. Spradley mengingatkan tentang pelaksanaan partisipasi lengkap ini dengan mengatakan bahwa peneliti makin tahu tentang suatu situasi sebgai partisipan biasa, makin sulit menempatkan diri sebagai peneliti.

Observasi Deskripsi, Observasi Terfokus, dan Observasi Selektif

Pada observasi partisipan, peneliti mengamati aktivitas manusia, karakteristik fisik situasi sosial, dan bagaimana perasaan waktu menjasdi bagian dari situasi tersebut. Selama penelitian dilapangan jenis observasinya tidak tetap. Menurut Spradley (1980), peneliti mulai dari observasi deskripsi (descrivtif observations) secara luas, yaitu berusaha melukiskan secara umum situasi sosial dan apa yang terjadi di sana. Kemudian, setelah perekamanan dan analisis data pertama, peneliti menyempitkan pengumpulan datanya dan mulai melakukan observasi terfokus (focused observations).  Dan akhirnya setelah dilakukan lebih banyak lagi analisis dan observasi yang berualang-ulang di lapangan, peneliti dapat menyempitkan lagi penelitiannya dengan melakukan observasi selektif (selective observations). Sekalipun demikian peneliti masih terus melakukan observasi deskriftif sampai akhir pengumpulan data.

Observasi deskriptif  erat hubunganya dengan pertanyaan deskriptif, yaitu pertanyaan yang mengarahkan observasi tersebut. Contoh pertanyaan deskriptif dikemukakan berikut ini :
·        Apa yang saya kerjakan pada saat berada di ruang sidang pengadilan ?
·        Bagaimana bentuk ruang sidang ini ?
·        Apa yang dilakukan oleh hakim, jaksa, panitera dan pembela pada hari pertama sidang ?
·        Apa yang dikatakan oleh orang-orang yang hadir di situ ?

Dengan demikian peneliti tidak mencatat informasi-informasi yang rinci. Observasi deskriptif sebagai respon dari pertanyaan deskriptif  mencakup informasi yang banyak bagi peneliti, yaitu tindakan peneliti dilapangan, apa yang dipikirkan dan bagaimana yang dirasakan oleh peneliti. Terdapat dua macam observasi deskriftif :
·        Grand tour dapat dilukiskan sebagai orang yang datang dan berkeliling ke sebuah rumah, perusahaan atau sekolah untuk mengamati keadaan umum tempat tersebut.
·        Mini tour pertanyaannya menyangkut  satuan-satuan pengalaman yang lebih kecil.
Jenis pertanyaan keduanya menyangkut sembilan dimensi ; Ruang, obyek, tindakan, aktivitas, kejadian, waktu, aktor, tujuan dan perasaan.

Khusus bidang pendidikan  Bogdan dan Biklan (19982) memberikan contoh daftar pertanyaan observasi antara lain seperti berikut :
·        Bagaimana guru mengorganisasikan kelas ?
·        Apa yang dimaksud oleh guru yang sedang diamati, seperti maksud dari kata disiplin dan bagaimana ia bertindak sesuai dengan arti kata tersebut ?
·        Bagaimana anda mengkarakteristikkan suasana kelas tersebut?
·        Bagaimana perasaan guru-guru di sekolah tentang pekerjaannya ?

Apabila peneliti sudah menentukan focus penelitian, ia siap untuk kembali kesituasi sosial dan melakukan observasi terfokus. Observasi terfokus didasarkan atas pertanyaan struktural. Pertanyaan struktural memiliki hubungan semantik dengan domain tertentu, misalnya pertanyaan-pertanyaan struktural berikut ini :

Domain
Pertanyaan Struktural
Tahap – tahap belanja

Macam-macam saksi


Alasan ganti pekerjaan

Cara mendatangkan saksi secara cepat


Apa saja tahap-tahap dalam belanja ?

Apa saja macam-macam saksi di pengadilan ?

Apa saja alasan orang ganti pekerjaan ?

Cara apa saja untuk mendatangkan saksi secara tepat ?

Observasi selektif mencerminkan focus terkecil dalam observasi. Dalam hal ini peneliti terlibat dalam situasi sosial dan mencari perbedaan antara katagori-katagori yang spesifik. Paling tidak ada 3 cara dalam mencaari perbedaan tersebut.

Pertama ; peneliti tidak mengetahui kontras dalam mencari perbedaan yang terjadi. Misalnya dalam mempelajari macam-macam operator, mulai operator yang tidak sabar, pelawak, suka bertanya, masih belajar  dan yang berlagak jadi supervisor.

Kedua ; apabila peneliti mengetahui satu atau dua perbedaan, peneliti tetap memerlukan lagi perbedaan yang lain. Observasi terfokus digunakan untuk mengembangkan daftar perbedaan. Untuk ini peneliti peneliti mengembangkan pertanyaan kontras, yang meliputi pertanyaan kontras diadik (dyadic contras questions) seperti “Apa perbedaan memasuki supermarket  dan keluar dari supermarket?”. Pertanyaan kontras triadic (triadic contrast questions) seperti pertanyaan “Dari ketiganya, mana dua yang sama  dan mana satu yang berbeda; mengasah pisau,membentuk barisan antri, beristirahat?”.

Ketiga ; perbedaan dapat diketahui dengan cara menulis semua perbedaan pada kartu-kartu kecil dan mengaturnya menjadi kelompok-kelompok. Begitu peneliti melihat suatu kelompok kartu timbul pertanyaan “Apakah perbedaan antara hal-hal tersebut?”Jika peneliti datang pada hal yang pertama yang menunjukan perbedaan  dengan alasan tertentu, letakan pada kelompok  yang baru. Sekarang peneliti  mempunyai dua kelompok kartu dan peneliti dapat melanjutkan mengelompokan kartu-kartu sampai menemukan kartu yang tidak cocok untuk kedua kelompok tersebut, kemuadian peneliti mulai dengan kelompok yang ketiga dan sterusnya.  Pertanyaan semacam ini disebut Pertanyaan kontras pemilihan kartu (card sorting contrast questions).

Hal – hal yang harus diperhatikan dalam observasi


·        Pengamat tidak mungkin dapat mengamati segala-galanya dilapangan.
·        Dalam melakukan catatan lapangan, kata sifat interpretative seperti “menyenangkan”, “cantik” dan “menarik” harus dihindari (Patton 1980) Dan kata sifat diskriptif seperti warna, pengukuran dan kesengajaan. Danandjaja (1984) mengingatkan pada waktu mencatat hasil observasi agar tidak mencampur adukan  hasil pengumpulan data dengan interprestasi.
·        Kehadiran peneliti selama pengamatan hendaknya tidak mengganggu komunitas subyek, sehingga mereka tidak terpengaruh perilakunya.

Pembuatan catatan observasi


Menurut Guba dan Lincoln (1981) sebagaimana dikutip oleh A. Sonhadji KH (1994), telah memberikan pedoman dalam pembuatan catatan :
·        Pembuatan catatan lapangan yaitu gambaran umum peristiwa yang telah diamati oleh peneliti.
·        Buku harian
·        Catatan tentang satuan-satuan tematis yaitu catatan rinci tentang tema yang muncul
·        Catatan kronologis
·        Peta konteks yang dapat berbentuk peta sketsa atau diagram
·        Taksonomi dan kategori
·        Jadual observasi berisi dedkripsi waktu secara rinci tentang apa yang dikerjakan, diamati.
·        Sosiometrik diagram hubungan antara subyek yang sedang diamati
·        Panel pengamatan secara periodik
·        Kuesioner yang diisi oleh pengamat
·        Balikan dari pengamatan lainnya
·        Daftar cek, dibuat untuk mengecek apakah semua aspek informasi yang diperlukan telah direkam.
·        Piranti elektronik
·        Topeng Steno yaitu alat perekam suara yang diletakan secara tersembunyi di tubuh peneliti.

Format Rekaman hasil Observasi


Format disini adalah bentuk wajah catatan lapangan. Bermacam-macam format rakaman hasil observasi telah dikembangkan.  Antara lain format dari Moleong pada halaman berikut :

FORMAT MOLEONG
 

Kelas V SD Jl. Tampak
Siring, Bandung Selatan
Guru : Ibu Ina

CL (Catatan Lapangan) No. 5
Pengamatan Tgl 22/04/2002
Jam 10.10 – 11.45
Disusun jam 20.15

(judul) kelas yang aktif






Tanggapan Pengamat :









FORMAT OBSERVASI


 

TEMA OBSERVASI   :
Lokasi Obyek              :                                               Tgl/Jam :
Jenis Obyek                 :                                               Pengamat :
Catatan                        :

Koding
Data / Hasil Pengamatan








2.3 Teknik Dokumentasi

Teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber non insani. Sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman. Lincoln dan Guba (1985) mengartikan rekaman sebagai setiap tulisan atau pernyataan yang dipersiapkan oleh atau untuk individual atau organisasi dengan tujuan membuktikan adanya suatu peristiwa atau memenuhi accounting. Contoh : jadual penerbangan, laporan audit, formulir pajak dan sebagainya.

Sedangkan kata “dokumen” digunakan untuk mengacu setiap tulisan selain rekaman yaitu tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu, seperti surat-surat, buku harian, naskah pidato dan sebagainya.

Alasan dipergunakan sumber ini yaitu :
·        Selalu tersedia dan murah
·        Stabil, baik keakuratannya dalam merefleksikan situasi yang terjadi
·        Sumber informasi yang kaya secara kontekstual relevan dan mendasar dalam konteksnya.
·        Pernyataan yang legal yang dapat memenuhi akuntabilitas

Dokumen Pribadi


Dokumen Pribadi adalah catatan atau karangan seseorang secara tertulis mengenai tindakan, pengalaman dan kepercayaan yaitu antara lain : Buku harian, Surat pribadi dan Otobiografi

Dokumen Resmi


Terdapat dua macam dokumen resmi antara lain :

·        Dokumen internal ; memo, pengumuman, instruksi, aturan, rekaman hasil rapat dan keputusan pimpinan yang digunakan kalangan sendiri.
·        Dokumen eksternal ; bahan-bahan informasi yang dihasilkan oleh lembaga social, majalah, bulletin, pernyataan dan berita yang disiarkan kepada media masa.

Pedoman Dokumentasi


Sekalipun sulit untuk menyusun suatu pedoman umum dokumentasi karena bervariasinya dokumen yang direkamnya. Namun unsur obyek yang dicatat, cara pencatatan, aspek dan jenis yang dicatat dan cara penulisan catatan dapat dimasukan dalam dokumentasi.

FORMAT DOKUMENTASI

TEMA DOKUMENTASI        :
Lokasi Obyek                          :                                               Tgl/Jam :
Jenis Obyek                             :                                               Pengamat :
Catatan                                    :

Koding
Data / Hasil Pengamatan








3        Proses dan Teknik Analisis Kualitatif

Ada perbedaan mendasar baik dalam proses maupun dalam teknik analisis kualitatif dengan analisis kuantitatif. Pada analisis data kuantitatif, pemilihan teknik analisis sangat ditentukan oleh besaran dan level pengukuran data apakah nominal, ordinal, interval dan rasio. Masing-masing sarana analisis memerlukan persyaratan untuk berlakunya untuk uji hipotesa penelitian. Sedangkan analisa data pada penelitian kualitatif lebih tertuju pada proses pelacakan dan pengaturan secara sistematik transkrip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahan-bahan tersebut agar dapat dipresentasikan temuannya kepada orang lain (Bogdan dan Biklen, 1982). Selanjutnya dijelaskan  bahwa analisis data melibatkan pengerjaan data, organisasi data, pemilahan menjadi satuan-satuan tertentu, sintesis data, pelacakan pola, penemuan hal-hal yang penting dan dipelajari dan penentuan apa yang harus dikemukakan kepada orang lain.
Dalam proses analisis data kualitatif dikenal analisis selama pengumpulan data dan ada analisis data setelah pengumpulan data.

Analisa Data Selama Pengumpulan Data


Miles dan Huberman (1984) menyebutkan bahwa analisis data selama pengumpulan data membawa peneliti mondar-mandir antara berpikir tentang data yang ada dan mengembangkan strategi untuk mengumpulkan data baru. Melakukan koreksi terhadap informasi yang kurang jelas dan mengarahkan analisis yang sedang berjalan berkaitan dengan dampak pembangkitan kerja lapangan. Langkah yang ditempuh dalam pengumpulan data yaitu penyusunan lembar rangkuman kontak (contact summary sheet), pembuatan kode-kode, pengkodean pola (pattern codding) dan pemberian memo.

Lembar rangkuman kontak merupakan lembar yang berisi serangkaian pemfokusan atau rangkuman pertanyaan tentang kontak lapangan tertentu. Dalam hal ini, peneliti menelaah catatan-catatan lapangan, dan menjawab setiap pertanyaan secara singkat untuk mengembangkan rangkuman secara keseluruhan dari hal pokok dalam kontak. Pertanyaan itu dapat dirumuskan :
(1)   Orang, peristiwa atau situasi apa yang akan diungkap?
(2)   Tema dan isu apa dalam kontak?
(3)   Tempat mana yang paling energi pada kontak berikutnya, dan informasi apa saja yang akan dilacak?

Lembar rangkuman kontak dapat dibuat secara lebih spesifik dan tidak begitu “open-ended”, dengan disertai kode-kode.

Persoalan yang dihadapi dalam pengumpulan data adalah banyaknya catatan-catatan lapangan dan dokumen yang terkumpul, sehingga dapat menyulitkan peneliti dalam menangkap makna yang esensial dan menata kembali, serta merampingkan menjadi satuan-satuan yang siap dianalisis. Pengkodean diawali dengan penyusunan daftar kode. Dalam daftar kode yang dapat disimak dalam Miles & Huberman, 1984 :58-59;  terdapat 3 kolom, yakni kolom yang memuat label deskriptif untuk kategori umum dan kode-kode yang bersangkutan dengan kategori, berikutnya kolom yang memuat kode-kode secara rinci, sedangkan terakhir adalah kolom yang memuat kunci-kunci yang mengacu pada pertanyaan atau sub pertanyaan penelitian, dari mana kode diderivasi. Pemberian kode biasanya dilakukan pada tepi kiri dan tepi kanan pada catatan lapangan.

Kode pola adalah kode eksplanatori atau inferensial yaitu kode yang mengidentifikasi suatu tema, pola atau eksplanasi yang muncul untuk kepentingan analisis selanjutnya.
Pengkodean pada dasarnya menarik sejumlah besar bahan bersama menjadi lebih bermakna dan dapat teridentifikasi. Proses ini dapat dikatakan merupakan “pengkodean-meta”. Pengkodean dimaksudkan sebagai alat untuk merangkum segmen-segmen data, selain itu pengkodean pola merupakan cara untuk mengelompokkan rangkuman-rangkuman data tersebut menjadi sejumlah kecil tema atau konstruk.

Pengumpulan data merupakan pekerjaan yang sangat menarik dan pengkodean biasanya memakan energi yang besar sekali, dimana peneliti dibanjiri dengan berbagai informasi. Hal ini memungkinkan peneliti untuk lupa menangkap makna atau gejala umum dari apa yang sedang terjadi. Pembuatan memo adalah salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut.

Analisa Data Setelah Pengumpulan Data

Pada tahap ini peneliti banyak terlibat dalam kegiatan penyajian atau penampilan (display) dari data yang dikumpulkan dan dianalisis sebelumnya Peneliti kualitatif banyak menyususn teks naratif. Display adalah format yang menyajikan informasi secara sistimatik kepada pembaca.

Penelitian kualitatif memfokuskan pada kata-kata, tindakan-tindakan orang yang terjadi pada konteks tertentu, konteks mana dapat dilihat sebagai aspek relevan segera dari situasi yang bersangkutan, maupun sebagai aspek relevan dari sistem sosial di mana seseorang berfungsi seperti contohnya : ruang kelas, sekolah, departemen, perusahaan, keluarga, agen, masyarakat lokal dan sebagainya.

Miles dan Huberman memperkenalkan 2 macam format yaitu diagram konteks (context chart) dan matriks.


Model – Model Analisis

Spradley menyebutkan ada 4 macam model analisis  yaitu :
·        Analisis Dominan
·        Analisis taksonomi
·        Analisis komponensial
·        Analisis tema budaya

Analisis adalah penelaahan untuk mencari pola (paterns). Pola disini lebih mengacu pada pola budaya (cultural patterns) bukan semata-mata situasi sosial suatu domain cultural (cultural domain) adalah katagori makna cultural yang menyangkut katagori-katagori yang lebih kecil.

Terdapat 3 elemen dasar domain :
-         Cover term
-         Included term
-         Semantic relationship

Taksonomi adalah himpunan kategori-katagori yang di organisasi berdasarkan suatu semantic relationship.  Jadi taksonomi merupakan rincian dari domain cultural.


Contoh taksonomi :






































MEGAZINES











Literary magazines
                                                                                                      

Practical magazines

T.V. guides


Comics



Women’s magazines



News magazines




Saturday Review

Harpers

Popular Mechaniscs

TV guide

Supermen Comics

Batman

Cosmopolitan

Better Homes & Gardens

Time
Newsweek
US News & World Report
Sumber :Spradley (1980: 113) dalam Sonhadji, KH, (1994:80)

Sementara itu analisa komponensial adalah penelaahan sistematik pada atribut-atribut (komponen dari makna) berkaitan dengan katagori-katagori cultural. Apabila peneliti menemukan kontras-kontras antara anggota dalam domain, kontras tersebut dianggap merupakan atribut-atribut atau koponen dari makna. Atribut dari semua katagori cultural dalam suatu domain dapat disajikan sebagai diagram yang disebut paradigm. 

Contoh suatu Paradigm.


DOMAIN
DIMENSIONS OF CONTRAST
Signe
Action
Feeling
Junk mail
no
Throw away
Disgust
Personal letter
yes
Read dan keep
Delight
bills
no
Read and pay
Don’t like
            Sumber : Spradley (1980;132) dlm Ahmad Sonhadji, KH.(1994:81)
           
Paragdigma diatas menunjukan beberapa atribut dari 3 katagori budaya tersebut : Apakah ditandatangani, tindakan setelah menerima surat, dan perasaan berkenaan dengan adanya surat tersebut. Secara umum paradigma tersebut digambarkan sebagai  dibawah ini ;


DOMAIN
DIMENSIONS OF CONTRAST
I
II
III
Cultural catagory
Attribute 1
Attribute 2
Attribute 3
Cultural category
Attribute 1
Attribute 2
Attribute 3
Cultural catagory
Attribute 1
Attribute 2
Attribute 3
Sumber : Spradley (1980; 132) dalam A. Sonhadji K.H., (1994)
           
Konsep “tema budaya” pertama kali diperkenalkan ke ilmu sosial oleh ahli antropologi yang bernama Moris Opler. Opler mendiskripsikan umum tentang budaya Apache. Ia menyatakan bahwa kita dapat memahami secara baik pola umum dari suatu budaya dengan mengidentifikasi tema-tema yang berlangsung. Opler yang dikutip oleh Spradley (1980) mendefinisikan tema sebagai postulat atau posisi  yang dinyatakan atau disiratkan, dan biasanya perilaku perilaku pengendali atau aktifitas stimulasi. Yang diakui secara tersembunyi atau ditampilkan secara terbuka dalam suatu masyarakat. Sebagai contoh postulat atau tema yang dijumpai pada budaya Apache sebagai ekspresi gejala budaya : “Orang laki-laki secara fisik, mental dan moral lebih unggul dibandingkan wanita”. Tema ini dikembangkan dari beberapa analisis komponensial tentang budaya Apache.

4.  Penutup

Sajian tentang teknik pengumpulan dan analisis data dalam penelitian kualitatif ini hanya memuat prinsip-prinsipnya saja. Oleh karena itu, latihan–latihan dalam menggunakan teknik-teknik ini baik dalam bentuk simulasi maupun dalam latar yang sesungguhnya, merupakan hal yang perlu dilakukan, terutama bagi para peminat pendekatan kualitatif (naturalistic). Seperti orang yang belajar naik sepeda akan membuahkan hasil yang nyata apabila orang tersebut tidak hanya sekedar membicarakan dan mendiskusikan teknik “naik” sepeda, tetapi perlu terlibat langsung dalam pengalaman nyata sehingga tidak hanya tahu tetapi juga mengalami apa dan bagaimana orang mengendarai sepeda. Contoh ini sama dengan bagaimana orang meneliti dengan pendekatan kualitatif.

           

Referensi

Cresswell, J.W. 2009. Research Design, Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Los Angeles: Sage.
Kerlinger, Fred N. 2000. Foundations of behavioral research. Australia:  Wadsworth Thomson Learning.  
McMillan, J.H. & Schumacher S. 2010. Research in education, 7th ed.. Boston: Pearson.
Miles, M.B. dan Huberman, A.M. 1992. Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang MetodeMetode Baru. UIPress. Jakarta.
Nazir, Mohammad. 1999. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sugiyono. 1999. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta.

No comments:

Post a Comment